Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerapan Sapi - Pamekasan, Jawa Timur |
Sejarah:
Kerapan sapi pada awalnya hanya permainan di sawah oleh antarpetani, kemudian berkembang menjadi tradisi sebagai ungkapan rasa bersyukur petani akan keberhasilan panen jagung maupun tembakau. Seiring berjalannya waktu kerapan sapi menjadi sebuah permainan lomba atau pertandingan yang menjadi kegemaran masyarakat Madura.
Asal mula kemunculan kerapan sapi tidak ada bukti-bukti tertulis yang dapat diakui kebenarannya. Data tentang awal mula kerapan sapi di Madura yang sampai saat ini diyakini kebenaranya oleh masyarakat Madura berupa cerita-cerita legenda tentang kerapan sapi. Disebutkan bahwa kerapan sapi sudah ada sejak abad 14. Istilah-istilah dalam kerapan menunjuk pada ajaran-ajaran Islam yang dibawa Kiai Pratanu pada tahun 1531. Istilah-istilah dalam kerapan sapi dapat menunjuk pada tujuan hidup seseorang. Seperti istilah panglowar untuk sapi kanan dan pangdalem untuk sapi kiri supaya berjalan lurus harus sama kuat. Tetapi bagi orang Madura yang kuat pangdalem. Pegang tali kendali injak dampar budi jangan sampai dilepas. Ternyata kerapan sapi muncul pada akhir abad ke 16.
Sekitar abad 14 Sapudi diperintah oleh Panembahan Wlingi ia menanamkan cara-cara beternak sapi yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya Adi Poday. Ia lama mengembara di Madura daratan, dan memanfaatkan pengalamannya bertani di Pulau Sapudi dengan alat pertanian nanggala dan salaga. Konon menurut dongeng setelah pertanian semakin maju pasangan-pasangan sapi yang menggarap sawah disalaga bersama (dibajak), atau berlomba kecepatan. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Akhirnya setiap penggarapan sawah diikuti pacuan sapi.
Sekitar tahun 1750, di Sumenep dikenal seorang mubalig Islam bernama Pangeran ketandur (cucu Sunan Kudus) yang senang tanam-menanam. Di Sumenep ia berhasil memperkenalkan irigasi dan cara mengolah tanah. Apa yang diajarkan ditiru oleh rakyat sekitarnya, Dalam waktu singkat masyarakat merasakan panenan yang melimpah. Untuk mensyukuri keberhasilan diadakan pacuan sapi ‘bersalaga’, kemudian berkembang menjadi bernama galadag, kemudian menjadi keleles, dan akhirnya menjadi kerapan sapi (1983/84: 10).
Ketika Joko Tole (putera Adi Poday ) menjadi raja Sumenep hubungan daratan dengan Sapudi sangat erat, dan pacuan sapi sampai di Sapudi yang dikenal kaya hewan sapi. Pada zaman Belanda kerapan sapi berkembang pesat. Belanda merasa beruntung karena dapat menyalurkan ‘kekerasan’ orang Madura ke kegiatan kerapan (Sulaiman, 1983/84: 10-11).
Dalam perkembangan selanjutnya, kerapan sudah menjadi salah satu ciri khas Madura. Dari waktu ke waktu hiburan tradisional rakyat Madura ini bukan sekedar tontonan pengisi waktu luang tetapi sudah melibatkan pemerintah setempat dalam rangka peningkatan pemeliharaan sapi. Terahir dalam segala kegiatan selalu ditandai dengan kerapan tingkat Madura
untuk memperebutkan Tropi Presiden.Dalam sumber kuno yang tertuang dalam “Konferentie Karesidenan Madura” tahun 1956 yang terdiri atas 27 pasal itu, diantaranya menyebutkan kerapan berjenjang dari distrik (kecamatan), Kabupaten, terakhir karesidenan.
Kerapan sapi Madura terdapat di empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, sampanng, dan Bangkalan
Deskripsi:
Sampai saat sekarang kerapan sapi sudah berkembang jauh berbeda dengan awal kemunculannya. Jejak yang berkait dengan pertanian tidak ada. Kerapan sapi menjadi identitas budaya masyarakat Madura. Keberadaan dan kepopuleran kerapan sapi Madura diakui oleh pemerintah Indonesia dengan dikeluarkannya uang koin seratusan rupiah emisi tahun 1991-1998 yang pada salah satu sisinya bergambar kerapan sapi dan sisi sebaliknya bergambar Garuda Pancasila.
Dalam laga pelaksanaan kerapan sapi, masing-masing kabupaten mengirim sebanyak enam pasangan sapi, Keenam pasangan sapi karapan itu terdiri dari kelompok tiga pasangan pemenang, dan kelompok tiga pasangan lainnya sebagai pemenang di bagian kalah. Akan tetapi kemudian diadu lagi hingga ditetapkan sebanyak tiga pasangan dari sapi yang menang. Sehari sebelum pelaksanaan karapan sapi, akan digelar kontes sapi sonok yang diikuti penggemar sapi dari empat kabupaten seMadura.Selain itu beragam jenis budaya dan kesenian tradisional Madura juga di tampilkan dalam festival karapan sapi. Pelaksanaan festival karapan sapi digelar di lapangan Soenarto Hadiwidjojo Jalan Stadion Pamekasan. sedangkan kontes sapi sonok di lapangan Bakorwil IV Jalan Slamet Readi, Pamekasan.
Sebelum kerapan dimulai semua sapi-sapi peserta kerapan diarak berbaris memasuki lapangan. Sapi-sapi tersebut menggunakan asesoris kostum yang beraneka warna. Parade sapi kerap ini dimeriahkan dengan rombongan musik Saronen. Pada kesempatan ini menjadi ajang untuk memamerkan kegagahan, keperkasaan sapi beserta asesoris yang dikenakan. Selain itu sapi-sapi tersebut diperkenalkan kepada penonton dan membiasakan sapi pada arena pacuan, serta untuk melemaskan otot-otot sapi.Pakaian yang dikenakan sapi kerap disebut ambhin.Ambhinyang harganya mahal ini dilepas ketika sapi siap beradu. Kecualiobettetap dikenakan oleh hampir semua sapi kerap yang ikut lomba.Tak ada sapi karapan yang tidak mengenakan obet, iaberfungsimemberikan rasa pecaya diri, dan keperkasaan sapi (wawancara dengan perawat sapi dan pemilik sapi).
Dalam kerapan sapi, setiap peserta kerapan membawa krunya sebagai tim yang terlibat dalam mengatur strategi untuk kemenangan sapinya. Kru yang terlibat adalah: tokang tongkoatau joki yang mengendalikan sapi pacuan; tokang tambeng yang menahan kekang sapi sebelum dilepas; tokang gettak yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba sapi berlari kencang lurus ke depan; tokang tonja yang bertugas menarik dan menuntun sapi;tokang gubra yaitu anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak, membunyikan kaleng, dari tepi lapangan untuk memberi semangat pada sapinya supaya larinya kencang, kenceng, ke depan sampai garis finis. Semua elemen dalam kerapan sapi bersatu padu berfokus sesuai fungsinya untuk keberhasilan karapan sapinya.
Karapan sapi sejak tampilan 2012 ada dua versi yaitu tanpa kekerasan dan dengan kekerasan. Melalui edaran Gubernur Jatim kerapan sapi diminta ditampilokan tanpa kekerasan. Tetapi dari kalangan pengerap menginginkan kerapan sapi dengan kekerasan.