Kerajinan Kulit: Kerajinan Kipas Kulit - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKerajinan Kulit: Kerajinan Kipas Kulit - Kab. Bantul, D.I. Yogyakarta
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubKerajinan Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasSuradi
Pencatat Karya BudayaDwi Hastuti, S.Pd.
NarasumberWawancara dengan Suradi (pelaku), 53 tahun.
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKAB. BANTUL
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Pada masa masa Sultan HB VII Mbah Glembohpun menjadi abdi dalem keraton. Karena kedekatannya dengan Sultan, Mbah Glemboh kemudian diserahi tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton beserta bekelnya. Kemudian pada tahun 1918, karena terus menerus merawat wayang, Mbah Glemboh tertarik membuat wayang sendiri. Akhirnya di rumah beliau belajar menatah atau memahat wayang. Dibantu oleh empat orang tetangganya yakni, Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo. Lima orang tersebut bahu menbahu membuat wayang. Setelah selesai, wayang tersebut dibawa ke keraton untuk ditunjukkan kepada Sultan. Maksudnya agar sultan dapat memberikan penilaian terhadap wayang tersebut. Namun ketika mbah Glemboh membawa hasil wayangnya itu ke keraton, ditengah jalan Belanda melihat hasil karya tersebut dan membelinya semua. Ternyata tidak hanya Belanda saja yang tertarik untuk membeli hasil kerajinan tersebut, pemilik salah satu toko batik yang kebetulan melihatnya menenteng wayang lalu membeli dan memajang wayang tersebut di tokonya yang bernama Cokro Suharto. Wayang tersebut banyak menarik perhatian pembeli di toko Cokro Suharto, sehingga wayang tersebut gagal sampai kepada Sultan. Meskipun Demikian mbah Gembloh dan kawan- kawannya tetap membuat wayang yang dimaksudkan agar Sultan tetap dapat memberikan penilaiannya. Sampai pada tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang dengan dibantu oleh empat orang temannya beserta anak-anak mereka. Hingga tahun 1970 Sarinah datang ke Jogja dan tertarik pula dengan hasil karya mereka. Rasa tertarik Sarinah membawa pelanggan baru, dan Sarinah menjadi pemesan tetap wayang karya mereka hingga kini. Berkembangnya usaha membuat wayang mereka menjadi mata pencaharian, mendorong tetangga-tetangga yang lain untuk ikut mendalami usaha pembuatan wayang ini. Sebelumnya warga pucung ini hanya dapat menbuat kerajinan dari kulit dalam bentuk wayang , belum dapat membentuknya menjadi barang atau souvenir lain. Sampai akhirnya pada tahun 1980-an, ketika Presiden Soeharto, membuka expo non migas mereka mendapat kesempatan untuk memamerkan wayang karya mereka. Ketika itu banyak pengunjung baik domestik maupun internasional yang tertarik dan meminta mereka untuk membuat desain kerajinan baru dan hal itupun disanggupi oleh mereka. Sejak saat itulah, warga Pocung mulai memproduksi kerajinan kulit dengan desain baru. Deskripsi: Kerajinan kulit yang dikelola oleh Bp Suradi yang berlokasi di Jl Pocung Km 3 Wukirsari, Imogiri, Bantul merupakan kerajinan berbahan baku kulit. Bp Suradi memulai usahanya sejak tahun 1980. Usaha kerajinan kulit tersebut merupakan turun temurun dari orangtuanya. Bahan baku kulit yang digunakan untuk produksi kerajinan kulit tersebut adalah kulit kerbau, kulit sapi, kulit kambing dan tanduk kerbau. Bahan dasar berupa kulit didatangkan dari luar daerah seperti Jawa Timur, yaitu daerah Magetan. Produk yang dihasilkan berupa kipas kulit, kap lampu, wayang dan sebagainya. Alat-alat yang digunakan untuk membuat kerajinan kulit antara lain pahat, pewarna dan tali. Khusus untuk membuat wayang pewarna yang digunakan yaitu conde dan untuk membuat kipas menggunakan warna batik cendi. Proses pembuatan kerajinan kulit yang berupa kipas kulit : Pada tahap pertama kulit kerbau dipotong sesuai dengan ukuran kipas yang akan dibuat. Kemudian diampelas dengan menggunakan mesin. Selanjutnya kulit yang sudah halus dipahat sesuai dengan gambar wayang. Pada pekerjaan membuat gambar wayang atau dipahat, biasanya di bawa pulang oleh tenaga kerja dan dikerjakan di rumah masing-masing. Setelah dipahat tahap selanjutnya yaitu pewarnaan. Dalam mewarnai gambar harus sesuai dengan gambar tokoh wayang yang dibuat. Kipas yang sudah digambar dan diwarnai kemudian diberi gagang. Gagang kipas terbuat dari tanduk kerbau. Untuk membjuat gagang kipas, tanduk kerbau di luk dengan cara di panggang di atas lampu teplok. Baru kemudian di luk dengan alat luk. Alat luk terbuat dari besi, pralon dan bambu. Tahap yang terakhir yaitu menjahit gagang kipas agar tidak lepas. Setelah gagang kipas dijahit, kipas sudah siap untuk dipasarkan. Pemasaran hasil produksi kerajinan kulit yang dikelola oleh Bp Suradi di showroom di rumah produksi, yaitu di Jl Pocung Km 3. Selain itu pemasaran sampai ke Jakarta dan Bali. Khusus untuk produk kipas kulit biasanya kipas kulit dibuat berdasarkan pesanan.