Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSintren - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Sejarah: Tidak ada bukti sejarah sebagai sumber kapan sintren mulai dikenal masyarakat Brebes. Namun, sejak tahun 1800 kesenian ini sudah ada dan mengalami pertumbuhan yang luar biasa meskipun kemudian mengalami surut. Kesenian Sintren muncul lagi pada tahun 1920-an. Pada tahun 1930-an mengalami perkembangan hingga akhirnya pada masa penjajahan Jepang mengalami surut. Masa sekarang pun Sintren mengalami kemorosotan. Ada beberapa pengertian kata sintren. Menurut etimologinya, sintren berasal dari kata si dan putren yang digabung menjadi si putren (sang putri). Sang putri merujuk pada putri jelmaan yaitu perempuan yang dimasuki roh bidadari sehingga perempuan tersebut menjadi jelmaan bidadari. Pengertian lainnya, bahwa sintren berasal dari kata sindiran yang mengalami perubahan kata menjadi sitiran hingga akhirnya menjadi kata sintren. Dinamakan sindiran, karena memang dalam pertunjukan terdapat dua orang pemain yang memposisikan sebagai bodor. Posisi bodor dalam kesenian sintren sebagai pelawak atau badut yang seringkali menyindir melalui kata-kata kepada penari atau penontonnya. Kesenian sintren merupakan pertunjukan yang bersifat magis karena adanya penari perempuan yang kerasukan roh halusatau trance atas panggilan kemladang. Sintren dipertunjukan pada musim kemarau untuk meminta hujan, ajang mencari jodoh, dan sebagai hiburan. Pementasan sintren sekarang ini mengalami perubahan, mengikuti selera masyarakat. Iringan musiknya sudah memadukan alat musik tradisional dan sentuhan alat musik modern. Alat musik modern yang digunakan antara lain: gitar akustik dan organ. Kadangkala juru kawi tidak hanya menyanyikan lagu yang baku dalam sintren, melainkan bisa dangdut ataupun tarling. Sintren Brebes mempunyai karakteristik yang berbeda dengan daerah lainnya yaitu penggunaan musik bumbung/lodong (bambu), gambang slendro, dan musik buyung (tempayan wadah air). Faktor letak Brebes yang berbatasan dengan wilayah Cirebon, Jawa barat berpengaruh pada sintren. Pengaruh Cirebon terlihat dari laras nada pengiring yang berganti-ganti dari laras slendro ke laras pelog dan laras degung. Deskripsi: Dalam pertunjukan sintren diperlukan pemain yang bertugas sebagai: kemladang (pawang), pembantu kemladang, penari sintren, dua orang bodor, juru kawi (pesinden), pengrawit yang jumlahnya lebih dari 5 orang. Peran kemladang cukup penting sebagai penghubung antara penari sintren dengan roh. Tugas berat yang dipikul kemladang menjadikan sebelumnya ia melakukan ritual puasa. Syarat menjadi penari sintren harus masih perawan. Adapun perlengkapan pementasan yang dibutuhkan berupa: kembang sesaji, kemenyan, tempat dupa, stagen, kaca mata hitam, sampur , hiasan kembang melati yang dironce, perhiasan, BH, kain, kebaya, sanggul, dan kurungan yang diselubungi kain hitam. Pakaian bodor berupa ikat kepala, pakaian, celana komprang, sarung, dan sabuk. Ada beberapa lagu wajib dalam mengiringi pertunjukan sintren yaitu: turun sintren, solasih, uwak-uwak bango, bayem ceprol, dan kacang dawa. Contoh lagu: Turun Sintren Bayem Ceprol Solasih Turun-turun sintren, sintrene widadari Bayem-bayem ceprol Solasih solasih solanjana Nemu kembang neng ayunan Disebar tengahing bokor Menyan pangundang dewa Kembange si jaya indra Paman bibi aja ngobrol Ya dewa manjing sukma Kamajaya kamaratu Ana sintren luruh bodor Widadari temuruna Ratune widadari, ngranjing maring dadi Urutan pementasan sintren sebagai berikut: 1.Penari sintren dan kemladang mempersiapkan diri dekat kurunagn ayam yang ditutup kain hitam. 2.Penari sintren membawa busana yang terlipat rapi dan dimasukan dalam kurungan. 3.Kemladang mempersiapkan dupa yang terdiri dari kemenyan serta sesaji yang berupa kembang setaman sembari membacakan mantera mengundang roh bidadari. Bersamaan dengan kemladang yang membakar dupa kemenyan. 4.Kemladang membaca mantera untuk mengundang roh bidadari, juru kawi dan pengiring mengiringi dengan syair lagu turun sintren. 5.Kemladang menuju kurungan ayam, yang didalamnya sudah ada penari perempuan, sambil mendengarkan bisikan sintren. Ketika penari meminta lagu pada kemladang menjadi penanda bahwa penari sudah menjadi sintren. 6.Lagu permintaan diumumkan, bersamaan dengan lagu dimainkan, kurungan dibuka. 7.Sintren sudah berpakaian lengkap, kemudian menari sesuai dengan lagu permintaannya. Sintren akan berhenti menari ketika lagu berhenti, ketika lagu diperdengarkan akan menari lagi. 8. Juru kawi mendendangkan lagu bayem ceprol, menandakan sintren membutuhkan penari bodor. 9.Bodor berinteraksi dengan penonton, penonton tertawa gembira. Penonton bisa nyawer pada sintren dengan bantuan kemladang yang mengedarkan nampan saweran. 10.Permainan diulang sesuai arahan kemlandang sampai waktu cukup, sehingga akhirnya penari dimasukan ke kurungan kembali untuk disadarkan.