Legenda Desa Sitanggal - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaLegenda Desa Sitanggal - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Semasa Kerajaan Demak ada pembangunan Masjid Demak. Beberapa bangsawan diminta untuk membantunya. Salah satunya Pangeran Kuning yang mengemban tugas membawa sebatang pohon yang akan dimanfaatkan sebagai tiang (saka guru) Masjid Demak. Kayu didatangkan dari Cirebon. Namun ia tersesat di jalan hingga kesiangan. Oleh Pangeran Kuning kayu ditinggalkan. Setelah lama ditunggu kayunya tidak datang, para Wali menggunakan kayu serpihan (tatal) sehingga terciptalah tiang saka Masjid Demak. Tempat di mana kayu itu berada disebut Desa Sitanggal. Kayu yang ditinggalkan tersebut menghalangi laju air sungai, sehingga ada inisiatif masyarakat untuk memotongnya menjadi beberapa bagian kecil. Potongan kayu tersebut tidak bisa dibawa. Akibatnya mereka yang memotong kayu tersebut tertimpa ajal. Ada utusan Banten yang berkeinginan membawa kayu itu. Kepala desa mengijinkannya. Kepala desa tidak mengerti riwayat kayu tersebut. Atas desakan sesepuh desa bernama Wersa, akhirnya kepada suatu ketika, Wersa bermimpi didatangi tamu seorang kakek. Kakek tersebut meminta untuk menumpang di rumahnya. Kakek tersebut memperkenalkan diri dengan nama Maad. Wersa tidak mau, namun kakek tersebut memaksa. Wersa yang bertamu di tempat kakek tersebut diberitahu rahasia membawa potongan kayu. Kakek mengatakan bahwa cara menggotong kayu tersebut harus membisu dan membawanya dengan cara digendong layaknya bayi serta diperlakukan dengan baik. Tiga potong kayu berhasil dibawa oleh Wersa dan disimpan. Ketika diperlakukan tidak baik maka kayu akan membalasnya. Ada kejadian ketika tukang rumput yang mengambil potongan kayu tersebut dan dibuat kendang, ia menjadi gila. Dibuat gila karena dianggap mempermainkan kayu yang dibuat kendangan. Namun, ia kembali sehat setelah mendapat pertolongan Wersa. Deskripsi: Ada dua versi mengenai keberadaan Desa Sitanggal. Pertama, nama Sitanggal dikaitkan dengan kata siji dan tanggal. Pada tiap tanggal satu (siji) seorang juru kunci mendatangi sebuah pohon yang tidak berdaun, bercabang dua pada pangkal cabangnya berlubang. Di situ terdapat sarang lebah yang menghasilkan madu. Juru kunci akan mengambil madu dan menyetorkan ke kadipaten tiap-tiap tanggal satu. Pada suatu ketika ada dua penjahat bermaksud mencuri madu. Seorang naik dan lainnya menunggu di bawah. Setelah cukup lama menunggu yang di bawah berteriak menyuruh untuk menjatuhkan lebah yang akan ditangkap dengan sarung. Namun, alangkah terkejutnya ternyata yang jatuh bukan sarang lebah melainkan telapak tangan. Sekali lagi ia berteriak meminta sarang lebah, namun yang jatuh kembali telapak tangan. Ia ketakutan karena kemudian jatuh telapak kaki yang pertama, kemudian telapak kaki yang kedua, disusul jatuhnya sesosok tubuh temannya yang tadi naik. Keesokan harinya juru kunci berniat mengambil madu untuk disetorkan kepada bupati. Namun, ia terkejut melihat ada dua telapak tangan dan dua telapak kaki mengucurkan darah segar di bawah pohon. Juru kunci melaporkan kejadian tersebut kepada bupati yang segera meninjau ke tempat kejadian.