Tradisi Badha Ngasa: Puncak Gunung Segara - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaTradisi Badha Ngasa: Puncak Gunung Segara - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Gedung Konon merupakan tempat penyimpanan benda pusaka. Bangunan ini berukuran 6x3 meter, terbuat dari bambu beratap sirap. Gedung Konon berada di Gunung Segara. Gunung Segara merupakan ritus pemujaan Hindu. Selain Gedung Konon, terdapat juga pancuran dan sumber air yang dinamakan Pancuran Ceka Buyutan. Pancuran ini berfungsi untuk membersihkan diri sebelum dimulainya upacara Badha Ngasa. Ada kepercayaan dari penduduk setempat bahwa jika berhasil berada di puncak Gunung Segara dan melaksanakan ritual akan memperoleh pengalaman gaib yaitu melihat pemandangan kekayaan emas yang menghampar di lokasi tersebut. Apabila melanggar pantangan akan mendapat serangan di tubuhnya. Pantangannya adalah tidak boleh memakai baju atau pakaian serta apa pun yang terbuat dari kulit; harus melakukan pensucian di Pancuran Ceka Buyutan. Deskripsi: Badha Ngasa dilaksanakan di kompleks Gedung Konon. Badha Ngasa digelar setiap setahun sekali pada hari Selasa Kliwon (anggara kasih) pada mangsa kasanga. Upacara dimulai selepas dhuhur. Tujuan mengadakan tradisi ini untuk meminta berkah, keselamatan, kelimpahan rejeki, dan dijauhkan dari malapetaka. Ada juga sebagian peserta yang bertujuan untuk diberikan jodoh. Sesaji pokok yang diberikan berupa hasil bumi antara lain: nasi jagung, uwi, gembili, bentul, singkong, pisang, kentang, dan kacang. Lauk yang disajikan sangat sederhana yaitu dage (gembus) dengan disertai sayur. Ada larangan atau pantangan, tidak diperbolehkan mempersembahkan sesaji daging atau hewan hidup. Jalannya pelaksanaan tradisi ini sebagai berikut: setelah peserta menyucikan diri di pancuran Ceka Buyutan, seluruh peserta diberi kesempatan atau giliran memasuki tempat penyimpanan pusaka. Melihat situasi dan kondisi serta agar peserta dapat berdoa dengan khusuk, peserta yang masuk dibagi dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 orang. Peserta dalam kelompok akan dibimbing juru kunci dalam berdoa, mendaraskan keinginan masing-masing peserta. Selesai semua peserta mendaraskan doa, acara ditutup dengan makan bersama. Peserta membawa bekal makanan sendiri-sendiri dari rumah. Kadangkala mereka saling tukar-menukar lauk dan sayur. Peserta yang tidak membawa makanan akan diberi oleh peserta lainnya yang membawa banyak makanan. Hal ini secara tidak langsung menumbuhkan kerukunan dan solidaritas penduduk setempat.