Mitos Mbah Puret - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaMitos Mbah Puret - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Nama asli Mbah Puret tidak diketahui. Julukan itu diberikan karena kebiasaannya bertanam pare di kebun yang lokasinya berada di tepi Sungai Kluwut. Diceritakan bahwa hasil panen pare pada musim kemarau panjang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat setempat mengistilahkan puretan (kecil-kecil). Kemudian ia dipanggil dengan sebutan Mbah Puret. Deskripsi: Cerita mengenai keberadaannya dibicarakan pada masa pendudukan Jepang. Seorang penggembala kecil menggembalakan kambing di sekitar bekas kediaman Mbah Puret. Penuturan anak gembala kecil mengejutkan karena dia telah diakui anak oleh Mbah Puret dan disayanginya. Dalam menggembala ternaknya, ia diberi makan oleh Mbah Puret. Pengakuan anak gembala kepada orang tuanya dianggap mustahil dan justru mencurigakan. Untuk membuktikan kejujuran anak gembala tersebut, orang tua penggembala meminta bukti kalau sudah bertemu Mbah Puret. Permintaan orang tuanya disampaikan ke Mbah Puret. Mbah Puret kemudian menyuruh anak gembala membawa nasi yang masih hangat dan sayur opor pare. Keanehan terjadi, ketika nasi sayur tersebut dipegang oleh orang tuanya, wujudnya tidak terlihat. Wujud nasi sayur baru kelihatan bilamana disantap. Keanehan kedua adalah ketika anak gembala bertutur kepada orang tuanya bahwa ia akan dikhitan oleh Mbah Puret pada hari Jumat Kliwon. Orang tuanya ketika mendengar perkataan anaknya kemudian membujuknya agar menyampaikan kepada Mbah Puret untuk tidak mengkhitan. Orang tuanya juga melarang sang anak untuk menemui Mbah Puret. Permintaan ayah anak gembala tersebut dikabulkan oleh Mbah Puret. Namun, anak gembala menghilang tanpa bekas sebelum berangkat sekolah saat mandi di sungai. Kabar yanmg berkembang mengatakan bahwa anak gembala tersebut hanyut terbawa aliran sungai. Cerita yang kedua yang terkait dengan Mbah Puret terjadi lagi saat hilangnya tokoh DI/TII yang dijuluki Bedor. Ketika dikepung oleh TNI, Bedor dan pasukannya tidak berdaya. Jarak pertempuran cukup dekat dan memungkinkan TNI menangkap Bedor hidup-hidup. Begitu bersembunyi di semak-semak, Bedor dan pasukannya ada yang menyentuh. Sesudah disentuh, Bedor dan pasukannya hilang tanpa meninggalkan jejak. Kabar yang berkembang, Bedor dan pasukannya diminta oleh Mbah Puret untuk masuk ke rumahnya, bukan karena Bedor sakti.