Legenda Dewi Rantangsari: Larangan Pertunjukan Ronggeng Iringan Gamelan - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaLegenda Dewi Rantangsari: Larangan Pertunjukan Ronggeng Iringan Gamelan - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah : - Deskripsi: Dewi Rantangsari merupakan figur penari ronggeng yang sangat cantik, bersuara merdu, dan pandai menari. Kecantikan, suara, dan lenggak-lenggoknya sebagai penari ronggeng menjadikannya populer. Dengan bayaran yang sangat tinggi, Dewi Rantangsari selalu mendapat tawaran tanggapan dari desanya maupun luar desa. Kepandaiannya menari dengan iringan gamelan dan suara merdu yang keluar dari mulutnya membuat banyak kaum lelaki yang tergila-gila padanya. Setiap hajatan dengan tanggapan ronggeng Dewi Rantangsari, penonton berjubel memenuhi arena pertunjukan, yang asalnya dari segala pelosok. Berkat kepiawaian dalam menari, Dewi Rantangsari merupakan sosok perempuan kaya di desanya. Ia mampu meningkatkan derajat ekonomi keluarga dan saudaranya. Kesuksesan Dewi Rantangsari menimbulkan kedengkian bagi ronggeng lainnya. Mereka merasa tersaingi dengan keberadaan Dewi Rantangsari. Ronggeng tetangga desa berusaha menjatuhkan ketenaran Dewi Rantangsari. Ronggeng tetangga desa mempunyai rencana jahat. Ia mengetahui kelemahan Dewi Rantangsari. Ada satu gamelan yang menjadi sumber kesaktian Dewi Rantangsari. Pada suatu malam, satu gamelan tersebut dicuri dengan harapan kehebatan Dewi Rantangsari akan berakhir karena tanpa gamelan Dewi Rangtangsari tidak bisa mempertahankan kepiawaiannya. Suara merdu dan lenggak-lenggok tariannya tanpa didukung gamelan tersebut tidak akan bisa dilakukannya. Rencana jahat ronggeng tetangga berhasil, Dewi Rantangsari kehilangan pamornya sehingga jatuh miskin. Dewi Rantangsari tidak pernah mendapat tanggapan ronggeng lagi. Kecantikannya memudar seiring dengan penderitaan jiwanya. Akhirnya Dewi Rantangsari memilih moksa atau makareman (bertempat tinggal di alam halus). Sebelum moksa, Dewi Rantangsari mengucapkan sumpah (supata) demikian:”Hai penduduk Desa Bumiayu, barang siapa sepeninggalku ada yang berani menggelar pertunjukan dengan memukul gamelan, pasti akan kurenggut nyawanya, karena gamelan itu mengingatkan kepadaku dan penderitaan yang menimpaku.”