Babad Telaga Ranjeng - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaBabad Telaga Ranjeng - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubNaskah Kuno
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: Telaga Ranjeng merupakan sebuah telaga alam yang terletak di kawasan hutan lindung kurang lebih 10 km ke arah pabrik teh Kaligua. Telaga ini dipenuhi ribuan ikan lele yang dikeramatkan dan tidak boleh diambil. Jika pengunjung memberi makanan kepada ikan lele, maka ikan tersebut seolah mengerti dan bahkan berenang hingga ke daratan. Kepercayaan masyarakat setempat, siapa yang berani mengambil ikan lele dari telaga akan mengalami kemalangan. Sampai sekarang, tidak ada seprang pun yang berani membawa pulang ikan lele tersebut. Sumber air telaga pun tidak diketahui dengan pasti.Air Telaga Ranjeng melimpah ruah, bahkan ketika musim kemarau air tidak menyusut. Demikian pula ketika musim penghujan air tidak meluber. Deskripsi: Menurut cerita ada sepasang suami istri yang bernama Kyai dan Nyai Bakem. Pasangan ini belum dikarunia anak. Mereka hidup dalam kemiskinan, bekerja hanya serabutan. Mereka kemudian berkelana mencari tempat yang baik dalam usahanya meningkatkan taraf hidupnya. Dalam pengembaraannya, mereka bertemu dengan orang yang bernama Sarja. Sesampainya di tempat yang terdapat pohon pandanwangi yang menimbulkan aroma harum dari sarinya, Kyai Bakem menamakan tempat tersebut Pandansari. Kyai dan Nyai Bakem serta Sarja sepakat untuk menetap di Pandansari. Mereka membangun gubug sebagai tempat tinggal. Kyai Bakem dan Sarja mulai membuka lahan pertanian. Ketika sedang membuka hutan, terdengar suara gemuruh (gumrenjeng) yang asalnya tidak diketahui. Pada suatu hari ketika Nyai Bakem sedang mengirim makanan juga mendengar suara tersebut. Mereka bertiga penasaran dengan asal suara tersebut. Akhirnya ditemukan sumber suara gumrenjeng tersebut berasal dari telaga besar. Mereka sangat terkejut, ketika mendekati telaga ternyata didalamnya terdapat ikan berwarna hitam yang jumlahnya banyak. Sarja memberitahu kepada Kyai dan Nyai Bakem bahwa ikan hitam tersebut dinamakan ikan lele. Rasa keheranan ketiganya semakin bertambah, tatkala mereka menemukan telaga itu, suara gemuruh tersebut menghilang. Kyai Bakem berkata kepada Nyai Bakem dan Sarja bahwa untuk penanda tempat tersebut dinamakan Telaga Ranjeng. Kyai Bakem juga berujar bahwa di kemudian hari tidak satupun dari orang-orang diperkenankan mengambil ikan lele di telaga tersebut. Apabila ada yang berani mengambil, akan mendapat balasan karena telah berani merusak kelestariannya. Pesan atau ucapan Kyai Bakem sampai sekarang tetap dipercaya oleh penduduk Pandansari.