Seni Kuntulan - Pekalongan, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaSeni Kuntulan - Pekalongan, Jawa Tengah
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Tari
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasKuntul Ronggo Warsito
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDrs. Muritno, MM (Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Pekalongan)
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. PEKALONGAN
Penginput DataJuliana Amalia Warman
Sejarah : Keberadaan kesenian Kuntulan di Kabupaten Pekalongan diperkirakan mulai abad ke-17, yang diawali di kalangan santri pada pondok pesantren. Pada mulanya Kuntulan merupakan olahraga bela diri dengan menggunakan tehnik pencak silat. Menurut morfologinya, Kuntulan berasal dari kata konto yang berarti perkelahian dengan menggunakan tehnik pencak silat. Kata konto pertama kali diucapkan oleh orang Tionghoa yang ada di tanah Jawa. Pada waktu itu mereka bersekutu mengadakan perkelahian untuk mengacaukan situasi dan melemahkan kekuatan lawan. Para kyai di pondok pesantren bekerjasama dengan tokoh masyarakat setempat memberikan pelajaran pencak silat kepada murid-muridnya untuk menumbangkan musuh-musuh yang hendak menguasai daerahnya. Rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh dan berbekal ilmu bela diri yang tangguh, berhasil mengalahkan orang tionghoa. Orang tionghoa mengatakan bahwa orang Jawa yang berpakaian putih dan mengenakan ketu putih mengadakan perlawanan dengan main konto. Permainan pencak silat tersebut mulai dipelajari oleh masyarakat luas, kemudian diciptakan suatu kesenian yang menggunakan tehnik konto yang dinamakan seni Kuntulan. Pada awalnya kesenian kuntul masuk ke daerah Paninggaran ketika pengaruh Islam masuk ke desa Sawangan. Desa Sawangan terkenal dengan madrasah, santri, dan Islaminya. Berawal dengan nama hadrah, tahun 1980-an baru berubah nama menjadi kesenian kuntulan. Di samping membawa misi mempersatukan kembali rakyat, hadrah juga digunakan sebagai alat penyampaian dakwah. Tepatnya sekitar tahun 1950 kesenian itu muncul. Hadrah sangat kental nuansa Islam. Instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan gendang. Penarinya laki-laki dengan bentuk tarian menyerupai tarian Saman dari Aceh. Sedangkan tembang yang dilantunkan adalah baid-baid Burdah. Seniman-seniman daerah yang bergabung dengan hadrah yang bernuansa Islam sebagai perwujudan dari kesenian agama yang dikembangkan kalangan santri, tidak terlalu mendapat simpati dihati masyarakat, dikarenakan bahasa daerah yang saat itu menjadi sentral perubahan sosial tidak diadopsi sepenuhnya oleh kalangan santri. Faktor lain yang menyebabkan seni hadrah kurang diminati adalah pola eksklusif kaum santri dengan penduduk di luar golongan santri. Setelah tahun 1970-an kesenian daerah diupayakan pada politik estetik semata. Seni kemudian lebih banyak divisualisasi dalam bentuk gerak tari. Hal ini dilakukan dengan tujuan bahwa kesenian akan mendapat medan artistiknya manakala peraga tubuh bisa dinikmati secara langsung oleh para penonton. Sejarah hadrah memasuki babak baru pada sekitar tahun 1980-an. Kesenian ini bertransformasi pada bentuknya yang baru disebut sebagai kuntulan. Nuansa Arab - Islam yang terkandung di dalamnya berubah mengikuti alur komposisi kedaerahan. Setiap daerah memiliki ciri masing- masing. Begitu juga dengan kuntulan yang dimiliki desa Sawangan. Bukan hanya komposisi isi saja, arransment musikalnya juga ditambahi dengan beberapa alat lainnya. Ada gendang, bonang dan kluncing (triangle) memperjelas nuansa daerah dan agama dalam unsur kesenian kuntulan. Kesenian yang dibawa dari Cirebon (Wali Sanga) oleh ketua Kyai di Sawangan. Kemudian di pelajari dan di warisi oleh masyarakat Sawangan. Cikal bakal kesenian itu dari warga Sikele. Kesenian dikenal sebagai kuntulan, personilnya terdiri dari 40 orang laki- laki. Sekitar tahun 1990-an grup kuntulan semakin banyak di desa-desa seiring dengan berkembangnya perguruan-perguruan pencak silat. Deskripsi : Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, terbang, gendang dan rebana. Selain menggunakan jurus - jurus silat, dicampur juga dengan permainan ilmu tenaga dalam yang mendebarkan. Kuntulan sendiri berasal dari kata “Kuntul” yang merupakan nama dari salah satu burung berbulu putih seperti jenis burung bangau tetapi mempunyai ekor yang pendek dan berlari sangat cepat, itulah sebabnya seni kuntulan berkembang di daerah pesisiran, termasuk desa Sawangan, Paninggaran,Pekalongan. Sebutan Kuntul sebagai simbol, merupakan representasi sosial yang lebih mementingkan kebersamaan, serasa dan sepenanggungan di antara sesamanya. Hal ini di ilhami dari cara hidup burung Kuntul yang selalu memanggil teman-temannya dikala mendapatkan makanan. Kekhasan dalam kesenian kuntulan ini ialah iramanya yang mempunyai karakter keras, agresif dan menyentak bahkan saat tampil, para pemain musiknya terlihat seolah bahu membahu menciptakan nada yang dinamis dan penuh semangat sehingga wajar kalau disebut musik cadas khas Paninggaran bahkan sesekali kita harus menutup telinga karena begitu keras suaranya, ditambah para pemain jidornya yang kadang seperti kesurupan saat bermain. Lagu-lagunya pun tidak selalu Islami, namun juga banyak memasukkan lagu-lagu daerah dan kadang lagu pop yang sedang populer saat ini. Pengaruh busana penari dapat dilihat pada beberapa bagian busana penari kuntulan yang bersangkutan. Dahulu hanya ditambahkan baju celana tertutup, tangan sang penari juga ditutup kaos tangan berwarna putih, dan kakinya pun tertutup kaos kaki putih. Sekarang busananya banyak mengalami modifikasi dari busana semula yang sebenarnya serba putih seperti warna bulu burung kuntul (bangau). Perangkat musik kuntulan sendiri sangat dipengaruhi oleh budaya sekitarnya. Namun irama dasarnya tetaplah sama dengan hadrah lainnya. Selain enam buah rebana sebagai alat musik utamanya (dalam kuntulan baku), ada penambahan-penambahan seperti jidor (semacam drum), beduk besar, beduk kecil, kenong, kluncing (triangle), gong, biola dan kadang keyboard (saat ini) sebagai penguat nada. Serta dalam beberapa kesempatan sering ditambahkan angklung caruk sebagai pemanis. Pertunjukan seni Kuntulan umumnya diadakan pada malam hari, namun bisa pada siang hari apabila penanggap memintanya.Instrumen pengiring yang pokok terdiri dari empat rebana (trebang) dan satu jidor. Meskipun masa sekarang ini ada tambahan berupa biola dan seruling. Metamorfosis kuntulan masih terus berlanjut. Kundaran kepanjangan dari kuntulan yang didadar (seni kuntulan yang diperlebar) merupakan sebutan bagi perkembangan kuntulan pada tahap selanjutnya. Sebenarnya kundaran hanya sebuah garapan artistik untuk menyempurnakan tampilan. Jadi, kundaran masih bersifat perbaruan gerak dan isi dari kuntulan saja, belum bisa dikatakan kesenian tersendiri. Kundaran sebagai tahapan terakhir perkembangan kuntulan mengusung kepentingan bagaimana agar kesenian tersebut makin dinikmati dan dimiliki oleh masyarakat sekaligus memperluas kesadaran beragama yang diapresiasikan pada kepemilikan kesenian itu sendiri.