Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTingkeban/Mitoni - Pekalongan, Jawa Tengah
Upacara tingkeban dilakukan pada saat kandungan berusia lima atau tujuh bulan. Jalannya tingkeban, sebelumnya diawali dengan kenduri selamatan. Tamu yang hadir untuk kenduri diberi sekuntum bunga melati yang ditancapkan pada menar atau jarum. Adakalanya setiap tamu mencelupkan tangannya ke dalam air kembang setaman yang ditaruh di baskom/ember di dekat pintu. Maksudnya agar semua yang hadir bersih. Kadangkala tamu juga diolesi atal. Kenduri yang disediakan berupa nasi lengkap dengan lauk-pauk, polo kependem, dan rujak. Apabila rujak terasa tidak pedas maka jabang bayi berjenis kelamin perempuan, sebaliknya jika terasa pedas jabang bayi berjenis kelamin laki-laki. Sebelum doa selamatan/walimah, pihak tuan rumah menyampaikan mengenai maksud diselenggarakan selamatan kepada modin/kyai dengan memberi uang wajib. Modin selaku pemimpin upacara mengemukakan doa syukur dan mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ucapan terima kasih atas kedatangan para undangan, mengutarakan maksud penyelenggaraan selamatan, memohon hadirin ikut mendoakan bagi keselamatan ibu dan jabang bayinya, dan memohon maaf atas segala kekurangan. Setelah modin selesai membacakan doa dilanjutkan dengan pembagian sesaji kenduri yang semula dikepung/dikelilingi semua yang hadir dalam selamatan. Pada saat modin membacakan doa, calon ayah bersiap di depan pintu untuk melaksanakan gebyagan galar. Gebyagan galar, calon ayah tangan kiri memegang galar dan tangan kanan memegang kendi gogok yang diatasnya ditumpangi telur. Setelah modin/lebe/kyai selesai membaca sholawat atau ngidung diakhiri dengan gebyagan galar, deharapkan telur dan kendi pecah. Setelah selesai acara kenduri, tamu pulang dengan membawa berkat atau sesaji kenduri. Malam harinya sekitar jam 22.00, diadakan wungon atau perjamuan bagi segenap sanak keluarga, kerabat, tetangga dengan maksud untuk menjalin silaturahmi. Pada acara wungon disertai dengan waosan atau macapatan. Macapatan mengambil cerita layang pertimah. Bersamaan dengan acara waosan, dilakukan siraman. Siraman dilakukan di tempat yang dinamakan krobongan, bisa juga di kamar mandi atau dekat sumur. Di tempat yang sudah disediakan disiapkan air tujuh sumber yang telah diberi kembang setaman beserta gayung yang terbuat dari kelapa gading yang masih ada lapisan kelapanya.Siraman dilakukan oleh ibu kandung, mertua, dan ibu yang hadir sebanyak tujuh orang. Setelah selesai siraman, badan ibu diluluri dan memakai kain jarik berganti hingga berjumlah tujuh kali. Selanjutnya pada jarik ke tujuh, calon ibu memakai ikat pinggang dari letrek yaitu benang lawe merah dan putih. Calon ibu kemudian dibawa ke ruangan tengah, selanjutnya cengkir gading yang bergambar kamajaya kamaratih atau janaka sembadra dimasukan ke dalam jarik untuk dikeluarkan lewat bawah yang akan diterima ibu mertua atau ibu kandung (projolan). Setelah upacara projolan, calon ibu masuk ke dalam kamar tidur atau ruang rias untuk berganti busana dan berhias. Keesokan harinya dilakukan sesaji ambeng bocah angon yang telah disiapkan di atas tampah/nyiru dibagikan kepada anak-anak penggembala kerbau/sapi/kambing. Setelah nasi ambeng sudah habis dibagikan, tampah tersebut dilemparkan ke atas oleh salah seorang anak. Apabila tampah jatuh menengadah atau mlumah diperkirakan bayinya perempuan. Apabila tampah/nyiru jatuh tertelungkup atau mengkurep diperkirakan bayinya laki-laki. Sesaji tingkeban terdiri dari: rujak, tumpeng ingkung panggang ayam, nasi ambeng tujuh buah, bermacam-macam jenis pisang, rengginan damplang/manca warna, jajan pasar, rebusan palawijo, waluh bokor di dalamnya diberi parutan kelapa dan gula merah diberi lubang dan tutup, nasi punar tujuh buah, kelapa gading yang dikupas airnya dibuang didalamnya diidi beras dibalut lawe di bagian atas/ tutupnya ditancapkan kunyit dan uang, kupat lepet, lauk pauk kuluban berupa jenis sayuran yang menjalar (lung-lungan), bubur merah putih.