Asal Usul Desa Igir Bendera - Kab. Brebes, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaAsal Usul Desa Igir Bendera - Kab. Brebes, Jawa Tengah
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubCerita Rakyat
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaYustina Hastrini Nurwanti, S.S.
NarasumberDaryono, S.Pd.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. BREBES
Penginput DataM. Raga Putra Ammarsada
Sejarah: - Deskripsi: Di Desa Kalinusu, termasuk Kecamatan Bumiayu, ada sebuah hutan yang disebut dengan Hutan Igir Bendera. Dahulu, di desa tersebut terdapat dukuh kecil yang hanya berpenduduk dua puluh empat kepala keluarga. Sebagai sesepuhnya ialah Kebayan Kaki Semprung. Anak-anak disitu semuanya menggembalakan ternak orang tuanya, kerbau atau lembu di sawah ladang yang sudah dipungut hasil tanamannya atau di padang yang banyak rumput hijaunya. Salah seorang diantara mereka ada yang bertabiat agak nakal, dia sering mengganggu maupun mengusik kawan sebayanya. Pada suatu hari si anak nakal itu merencanakan sesuatu untuk menakut-nakuti teman-temannya. Diam-diam dia pergi menyendiri kemudian memanjat pohon yang sudah tua. Dibeberapa dahannya ditemukan sarang anai-anai ( sumpyuh ). Dipungutnya sumpyuh itu dari dahan pohon sempur yang dipanjatnya dan dibawa turun. Lalu dicarinya ranting-ranting kering yang berserakan di bawah pohon sempur kemudian disusun dan disulutnya sumpyuh tadi dibakarnya, sehingga hangus sama sekali kemudian ditumbuknya di atas permukaan batu yang lebar dan rata, sampai halus seperti debu. Serbuk hitam itu lalu dicoreng-morengkan pada mukanya sendiri, sehingga bagaikan orang hitam, sehingga sulit untuk mengenalinya siapa dia. Setelah selesai persiapan yang direncanakan lalu keluarlah ia dari dalam hutan sambil berteriak-teriak menantang teman-temannya, Hai anak-anak! Aku adalah syaitan yang menguasai hutan ini. Siapa berani melawan aku, marilah datang kesini, pasti akan kumatikan dan kumakan dagingnya, ayo lekas, majulah. Anak-anak penggembala itu keheran-heranan semuanya. Mereka dapat mendengarkan suara tantangan dengan jelas, tetapi tidak bisa melihat siapa yang berseru-seru itu. Karenanya larilah mereka tunggang langgang, semuanya pulang ke rumah masing-masing, dan sudah barang tentu sesuatu yang ajaib dan menakutkan itu diceritakan kepada orang tuanya. Seketika itu juga para penghuni dusun keluar ingin menyaksikan apa kiranya yang telah terjadi di hutan itu, namun tiada sesuatu yang aneh. Karena anak yang mengaku sebagai syaitan hutan tadi sebenarnya sudah ikut pulang kerumah bersama-sama teman lainnya tetapi tidak ada seorang anakpun yang mengetahuinya. Setibanya dirunah, anak aneh itu minta makan kepada ibunya, tetapi ibunya sangat heran, karena ia hanya mendengar suara saja, wujud tubuh anaknya tidak bias dilihat. Ibunya bertanya pada anak meminta penjelasan. Anak berkata bahwa ia mengoles mukanya dari serbuk hitam dari sarang anai-anai yang dibakar sampai hangus. Akibatnya semua teman-teman dan ibunyai tidak dapat melihat wujud tubuhnya. Ibunya menyuruhnya cuci muka sampai bersih di sumur. Setelah cuci muka dan bersih dari corengan hitam, ibunya dapat melihat tubuh anaknya jelas-jelas. Mengetahui akan kejadian yang ajaib ini mereka berdua ibu beranak pergi ke rumah Kebayan Kaki Semprung untuk melaporkan peristiwa aneh tersebut. Diceritakan semua kejadian yang menimpanya. Mendengar penjelasan itu Kaki Semprung lalu lari cepat-cepat menuju ke hutan di luar dusun. Semua serbuk hitam yang masih tersisa di atas batu di ambilnya dan di bawa pulang. Setibanya di rumah, Kaki Kebayan lalu memukul tabuh bertalu-talu, maka semua penduduk dusun berkumpullah di depan rumah Kaki Kebayan. Kebayan menjelaskan bahwa ada serbuk hitam yang bisa menyebabkan tubuh tidak nampak. Kaki Semprung mengatakan kalau serbuk hitam ditaburkan di sekitar dusun, maka dusun dan segala isinya tidak akan nampak di mata orang. Dengan demikian mereka bisa menjadi orang bebas. merdeka, tidak diperintah oleh orang lain. Penduduk setuju dengan keinginan Kaki Semprung. Kaki Kebayan Semprung menaburkan serbuk hitan tersebut disekitar dusunnya, sehingga dukuh dengan seluruh penduduknya tidak kelihatan lagi di mata yang lalu lalang di situ. Kaki Kebayan Semprung sendiri berubah menjadi seekor harimau besar. Dusun yang musnah itu akhirnya disebut Hutan Igir Bendera.