Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBatik Batang - Batang, Jawa Tengah
Sejarah: Batik Batang pesisiran banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya China, Belanda, dan Islam Timur Tengah. Warna-warna pada batik Batang pesisiran cenderung lebih beragam dibandingkan dengan corak warna batik Batang keratonan. Batik Batang pada umumnya digolongkan ke dalam dua kategori gaya, yaitu gaya keratonan dan gaya pesisiran. Unsur-unsur yang ada pada batik Batang keratonan biasanya dipengaruhi oleh budaya Jawa dan Hindu-Budha, sedangkan batik Batang Pesisiran biasanya dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya China, Belanda dan Rifaiyah. Batik Batang keratonan dengan ragam gaya khas keratonan dikenal juga sebagai batik Batang Jawa, batik vorstenlanden atau batik Batang pedalaman. Batik Batang keratonan banyak mendapatkan pengaruh dari budaya Hindu-Buddha India. Masyarakat Batang dalam perkembangannya sebagai masyrakat Jawa pesisiran banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan agama Islam yang masuk ke daerah Batang. Masyarakat Batang sebagai masyarakat Jawa yang mayoritas juga beragama Islam cenderung mengakulturasikan budaya Jawa dengan ajaran-ajaran dari agama Islam. Batik Batang sebagai warisan budaya dari nenek moyang masyarakat Batang turut mendapatkan pengaruh dari ajaran-ajaran agama Islam melalui perwujudan motif-motifnya. Batik Batang yang mendapatkan pengaruh-pengaruh dari ajaran agama Islam biasanya disebut juga sebagai Batik Batang Rifa’iyahan. Nama Batik Rifa’iyah sendiri diambil dari nama komunitas masyarakat yang membuat batik tersebut, yakni komunitas masyarakat Islam Rifa’iyah. Komunitas masyarakat Islam Rifa’iyah merupakan sebuah komunitas yang melakukan gerakan pembelajaran agama Islam yang lahir di daerah Kalisalak, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Masyarakat Islam Rifa’iyah di Kabupaten Batang pada umumnya juga mengenal dan melakukan kegiatan membatik sebagai sebuah tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat Batang. Batik Rifaiyah pada umumnya tetap menggunakan corak warna sogan ireng-irengan yang sudah menjadi ciri khas batik Batang sebagai batik yang bercorak keratonan, meskipun demikian motif-motif pada batik Rifa’iyah banyak dipengaruhi pula oleh gaya batik pesisiran yang beradaptasi dengan unsur-unsur kebudayaan asing seperti Cina, Belanda, dan juga Arab. Pengaruh ajaran-ajaran agama Islam terhadap motif-motif batik Rifaiyah terdapat dalam prinsip bahwa ragam hias yang boleh digunakan sebagai motif-motif pada batik Rifaiyah harus diyakini tidak menimbulkan syirik bagi pembuat maupun pemakainya. Motif-motif pada batik Rifa’iyah secara keseluruhan hampir tidak ada yang mengunakan gambar berwujud makhluk yang hidup seperti manusia ataupun binatang. Gambar-gambar bentuk binatang yang terkadang terdapat pada batik Rifa’iyah bentuknya pasti tidak sempurna atau hanya menyerupai saja karena penggambaran makhluk hidup dalam batik Rifa’iyah memang harus selalu disamarkan. Deskripsi: Batik Batang sebagai warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Batang merupakan potensi budaya daerah Batang yang berkembang karena pengaruh-pengaruh dari budaya pada masa keratonan yang masih dilestarikan sampai sekarang. Batik Batang diperkirakan sudah ada sejak masa Sultan Agung (1613 – 1645) atau bahkan sejak masa kerajaan Majapahit. Batik Batang sebagai kain batik yang dibuat dan dipakai di daerah kabupaten Batang memiliki ciri-ciri motif dan warna spesifik batik yang khas Batangan. Batik Batang pada umumnya dapat dikenali dari corak warna sogan ireng-irengan atau coklat kehitam-hitaman yang khas dari daerah Batang. Batik Batang digolongkan sebagai batik Keratonan karena corak warna sogan dari batik Batang. Batik keratonan Batang berbeda dengan batik-batik keratonan dari daerah Solo dan Jogjakarta. Batik Batang mempunyai corak warna sogan yang lebih gelap dibandingkan dengan corak-corak sogan batik dari daerah lain. Warna sogan pada batik Batang biasanya digunakan sebagai warna dasaran kain batik Batang yang pada umumnya menampilkan motif berwarna putih dengan ciri khas remukan di dalam motif batik Batang tersebut. Remukan yang dimaksudkan pada batik Batang. yaitu gambaran serat-serat yang ada pada bagian dalam motif batik Ba.tang yang memberikan nilai-nilai seni tersendiri pada batik Batang. Batik Batang berbeda dengan batik-batik yang berasal dari daerah lainnya karena proses pengrajinan batik Batang pun berbeda dengan proses pengrajinan batik-batik dari daerah lainnya. Tahap peremukan lilin malam dalam proses pengrajinan batik Batang yang dilakukan untuk menghasilkan aksen remukan pada motif-motif batik Batang tidak dilakukan pada proses pengrajinan batik di daerah lain, oleh karena ciri khas remukan yang ada pada motif-motif batik Batang tidak ditemukan pada batik-batik yang berasal dari daerah lainnya. Proses pengrajinan batik tulis khas Batang pada umumnya adalah sebagai berikut : a. Nglengreng, menggambarkan motif langsung pada kain. Ngisen-isen, memberi variasi motif yang telah di lengreng. Nembok, menutup (ngeblok) bagian dasar kain yang tidak perlu diwarnai. Ngobat, Mewarnai batik yang sudah ditembok dengan cara dicelupkan pada larutan zat warna. Ngremuk, Meremukkan lilin malam agar mendapatkan gambaran remukan (serat-serat) pada motif. Nglorod, Menghilangkan lilin malam dengan cara direbus dalam air mendidih (finishing). Tahapan ngisen-isen pada proses pembuatan batik tulis khas Batang biasanya memberikan detail lentreng terusan dengan motif yang rapat, saling menyambung dan tembus bolak-balik pada dua sisi kainnya. Detail lentreng terusan yang ada pada batik Batang menjadi salah satu ciri khas tersendiri. Motif-motif pada batik Batang keratonan terdiri dari motif berbentuk geometris dan campuran motif geometris dengan motif bebas. Batik Batang yang mendapat pengaruh motif kraton Mataraman banyak menggunakan motif-motif udan liris, sido mukti, romo ukel, kawung, parang atau seno, dan lain sebagainya. Motif lokal batik Batang keratonan antara lain motif manggaran, kembang cepoko, gemek setekem, dan lain sebagainya. Batik-batik Batang keratonan juga mempunyai motif-motif yang merupakan campuran dari beberapa motif, contohnya adalah motif parang karna dan parang tempe. Batik Batang pesisiran banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya China, Belanda, dan Islam Timur Tengah. Warna-warna pada batik Batang pesisiran cenderung lebih beragam dibandingkan dengan corak warna Batik Batang pesisiran gaya Tionghoa/Cina contohnya adalah motif tiga negeri, banji kotak, banji kitir dan nyah Pratin. f. b. c. batik Batang keratonan. Batik-batik Batang pesisiran tidak hanya menggunakan corak warna sogan, melainkan juga corak warna non soga yang seperti warna-warna merah, biru, ungu dan hijau. Batik Batang pesisiran berdasarkan ragam gaya motifnya dibedakan menjadi batik Batang pesisiran gaya Tionghoa/Cina, batik Batang pesisiran gaya Belanda, batik Batang pesisiran gaya Islam/Rifa’iyah dan batik Batang pesisiran gaya bebas.