Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Sistem Pengetahuan Tradisional Matapencaharian di DIY - Sleman, DIY |
| Karya Budaya | Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku |
| Karya Budaya Sub | Pengetahuan Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Suku Bangsa Jawa |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sukari |
| Narasumber | Amat Basuki (65 th), HJ. Wibowo, dkk. 1995/1996. Sistem Pengetahuan Tradisional dalam Bidang Matapencaharian di DIY. Yogyakarta: Bagian Proyek P2NB. |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KAB. SLEMAN |
| Penginput Data | Juliana Amalia Warman |
Sejarah : Desa Argomulyo dengan kondisi tanah yang dikenal baik dengan tata pengairan irigasi baik tradisional maupun modern dan terpelihara baik, menjadikan Desa Argomulyo sebagai desa pertanian. Sebagai desa pertanian yang sepanjang tahun tak pernah terputus untuk pertanian padi, sehingga merupakan desa terbaik dalam produksi padi dari DIY. Dengan kata lain, dikarenakan kondisi tanahnya yang subur, apalagi dilengkapi dengan tata pengairan yang sempurna, Argomulyo menjadi desa percontohan.
Deskripsi : Di kalangan masyarakat sederhana, seperti di Desa Argomulyo, fenomena ekonomi itu terintegrasi dengan sistem sosial dan sistem budaya masyarakat. Dalam sistem pengetahuan tradisional dalam bidang matapencaharian ini menggambarkan mengenai aspek alam sekitar sebagai wahana pembentukan dasar kebudayaan masyarakat. Kemudian dikemukakan mengenai segala sesuatu yang menyangkut proses produksi, konsumsi dan distribusi. Selain itu juga mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sistem pengetahuan tradisional. Matapencaharian dari sumber pertanian yang terjadi di Desa Argomulyo membawa implikasi sistem uang tidak aka berkembang karena beras tidak bisa disimpan lama. Adanya inovasi dan inventasi akibat teknologi baru dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian menimbulkan gejolak masyarakat, seperti numbuk padi diganti dengan huller, ani-ani diganti sabit bergerigi dan dengan sistem tebasan. Hal ini memungkinkan hubungan petani pemilik dan buruh tani akan merenggang.