KETOPRAK ONGKEK - Yogyakarta, DIY

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKETOPRAK ONGKEK - Yogyakarta, DIY
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubPermainan Tradisional
Kondisi Saat IniTerancam Punah
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasSuyami
Pencatat Karya BudayaSuyami, M.Hum.
NarasumberSuyami
ProvinsiDI Yogyakarta
Penginput DataDwi Hastuti, S.Pd.
Permainan anak ”Cublak Suweng” merupakan permainan tradisional Jawa yang beberapa dekade yang lalu cukup populer di kalangan anak-anak di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Permainan anak ”Cublak Suweng” merupakan penggambaran kehidupan di lingkungan pengusha pembuat dendeng daging sapi. Proses bermain dalam permainan ini dibagi dalam tiga tahapan, yang ditandai dengan pergantian tembang pengiring. Akan tetapi pada masa sekarang permainan tersebut sudah jarang dimainkan secara utuh. Kebanyakan anak-anak yang memainkan permainan ini hanya pada tahap 1 dengan iringan lagu 1. Permainan tahap 1: beberapa anak duduk melingkar dengan satu anak berada di tengah, duduk menelungkup di pangkuan seorang anak yang diandaikan sebagai embok (ibuk). Semua anak yang duduk menyanyikan lagu 1 (cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, omahmu ketundung gudel, pak empo lera lere, sapa ngguyu ndhelikake, sir sir pong dele bodong, sir sir pong dele bodong), sembari menyentuh-nyentuhkan benda kecil, yang akhirnya ditinggal pada telapak tangan salah seorang pemain. Sehabis lagu 1, anak yang duduk menelungkup di tengah, diminta menebak benda kecil tersebut berada pada telapak tangan siapa. Jika tebakannya benar, ia bebas. Jika tebakannya salah, ia kembali duduk menelungkup di tengan lingkaran, sebagai anak tuna wicara. Kemudian permainan dilanjutkan dengan iringan lagu 2 (wis oleh sakenthung, galendhung, asebeja beji bekung, pitik tulak kate wana, bayem tulak raja donya, tangisana ndomble, kacangira lawe, temu kene, dudu sanak dudu kadang, yan mati melu kelangan, sir sir pong dele bodong, sir sir pong dele bodong), dengan cara bermain sama seperti pada permainan tahap 1, kemudian anak yang menelungkup kembali menebak telapak tangan siapa yang kedapatan benda kecil alat permainan. Permainan tahap 2 ini dilanjutkan sampai berapa ’kenthung’ sesuai kesepakatan. Permainan tahap 2: Pada tahap ini anak yang semula menelungkup di tengah, yang diandaikan sebagai anak tuna wicara, diminta mengambilkan beberapa perlengkapan untuk membuat dendeng. Pertama diminta mengambilkan pisau, selanjutnya diminta mengambilkan garam, asam, dan bawang merah, dan terakhir diminta mengambilkan layah dan munthu (batu penggilas). Tahap 3: ’Si tuna wicara’ diminta berdiri denganmembentangkan kedua tangannya, diandaikan sebagai tempat penjemur daging dendeng. Anak-anak yang lain berpegangan pada kedua tangan yang dibentang tersebut. Sementara anak yang semula dianggap sebagai embokmohon diri untuk pergi ke pasar, si tuna wicara diminta menjaga jemuran dendeng agar tidak dipatuk burung. Sementara si embok pergi, anak-anak (dendeng yang dijemur) berlarian sambil berucap ’kaok... kaok...’ menggambarkan burung gagak yang memtuk dan menerbangkan dendeng yang dijemur, hingga si tuna wicara tinggl sendirian. Ketika si embok datang mendapati si tuna wicara tinggal sendirian, dendeng yang dijemur sudah tiidak anak, ia diminta mengejar burung-burung gagak untuk mengembalikan dendeng yang diterbangkannya. Ketika si tuna wicara pergi, anak-anak yang lain berkumpul kembali mengelilingi si embok. Kemudian mereka menyanyikan lagu 3 untuk memanggil si tuna wicara agar kembali (Su bisu wis muliha, tak tanggapke wayang klitik, jreng-enong ejreng egung, jreng enong ejreng egung)