Kearifan Mengelola Sumber Air di Pulau Nusa Kambangan Cilacap, Jateng

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKearifan Mengelola Sumber Air di Pulau Nusa Kambangan Cilacap, Jateng
Karya BudayaPengetahuan dan Kebiasaan Perilaku
Karya Budaya SubKearifan Lokal
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasPak Slamet, Ketua Pelestari Lingkungan
Pencatat Karya BudayaDra. Taryati
NarasumberDra. Taryati, Pandangan dan Perilaku Penduduk Segara Anakan Terhadap Lingkungannya, 2008, Partawidaya IX No 2 Yogyakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. CILACAP
Penginput DataArni Devi Fitriani
Sejarah : Ketika tahun 1998 hutan di Pulau Nusa Kambangan sebagian di tebang untuk dijadikan perkebunan pisang Sumpride, namun tidak jadi. Akibatnya sumber air tawar menurun produksinya sehingga penduduk kampung Laut kelabakan. Hal ini karena air bersih untuk kehidupan penduduk Kampung Laut hanya dari Pulau Nusa Kambangan ini. Oleh karena itu penduduk secara sadar bersama-sama menghijaukan Pulau Nusa Kambangan dengan tanaman yang dapat menyimpan dan memproduksi air bersih. Usaha ini dilakukan oleh 3 kelompok yang masing-masing kelompok pelestari ini beranggotakan 100 orang. Deskripsi : Sejak sumber air di Pulau Nusa Kambangan agak kering bahkan suatu saat kekeringan, maka penduduk Kampung Laut bergotong-royong untuk mengatasinya. Mereka membentuk Kelompok Pelestari Lingkungan yang terdiri dari 3 kelompok dan setiap kelompok beranggotakan 100 orang. Lahan Nusa Kambangan dibagi masing KK mendapat lahan 1 ha. Mereka diwajibkan 80 % tanaman tahunan dan 20 % boleh ditanami buah-buahan dan sayuran, di sela-selanya boleh ditanami padi, singkong, ubi, kacang, jahe, lombok, terong dan lain รขโ‚ฌโ€œ lain. Tanaman tahunan tidak boleh ditebang, begitu juga tanaman buah-buahan. Hanya tanaman buah boleh di panen buahnya. Agar sumber air berproduksi maksimal, maka 500 m dari sumber air ditanami tanaman yang mengandung dan menyimpan air yaitu; kluwih (picang), bambu, karet, salam, klalat, tengkola, arantuka. Pelestarian tersebut berhasil sehingga tidak kekurangan air bersih.