Delikan/umpetan - Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaDelikan/umpetan - Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta
Karya BudayaTradisi dan Ekspresi Lisan
Karya Budaya SubPermainan Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasPermainan Jethungan
Pencatat Karya BudayaSri Sumarsih
NarasumberJudul: Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Kodya Yogyakarta oleh Maharkesti 1999/2000. Terdapat dalam Laporan Penelitian Jarahnitra no.016A/P/1999
ProvinsiDI Yogyakarta
Kabupaten/KotaKOTA YOGYAKARTA
Penginput DataArni Devi Fitriani
Sejarah : Dinamakan Jethungan karena pelaku yang semula bersembunyi setelah selamat kembali ke pangkalan mengucapkan kata Jethung. Disebut umpetan atau delikan karena pelaku ngumpet atau ndelik (bersembunyi) agar tidak diketahui yang dadi. Saat permainan biasanya malam hari pada bulan purnama. Tempat permainan membutuhkan lahan yang luas serta ada tempat-tempat untuk bersembunyi misalnya pohon, tembok, sumur. Permainan ini mendidik anak menjadi pemberani serta ada unsur strategi militer, sebab dalam perang gerilya dibutuhkan kepandaian bersembunyi untuk mengelabuhi jejak dari musuh. Permainan ini dimainkan lebih dari dua orang, semakin banyak peserta pemain akan lebih baik. Usia pemain sebaiknya sebaya, dapat dilakukan anak laki-laki maupun perempuan Deskripsi : Mula-mula para peserta melakukan undian untuk menentukan siapa yang kalah, bagi yang kalah dijadikan peran dadi. Undian dilakukan dengan cara hompimpah atau hompingsut. Misalnya yang kalah A. Mata A lalu ditutup dengan kain atau boleh juga dengan tangannya sendiri. Posisi A menghadap pangkalan Jethungan, pangkalan ini dapat berupa tiang, tembok, atau batang pohon. Selanjutnya B,C,D,E,F bersembunyi di tempat yang sekiranya tidak dapat dilihat A. Setelah berada di tempat persembunyian salah seorang ada yang memberii aba bahwa pelaku ndadi boleh mencari peserta yang bersembunyi, caranya dengan mengatakan wis atau dor. A lalu berusaha mencari persembunyiannya. Sementara itu B,C,D,E,F berusaha meninggalkan persembunyiannya untuk lari ke pangkalan. Apabila ada yang selamat sampai di pangkalan ia mengucapkan kata jethung. Sebaliknya apabila belum sampai di pangkalan ternyata dapat ditangkap oleh A, maka A mengucapkan kata dor. Anak yang berhasil ditangkap oleh A misalnya B maka B dijadikan pelaku dadi menggantikan A. Apabila ada empat pelaku sudah sampai di pangkalan dengan selamat maka A berusaha mencari tempat persembunyian anak yang satu tersebut, bila berhasil mengucapkan dor.. Selanjuntya anak tersebut menggantikan Amenjadi pelaku dadi. Namun apabila A tidak berhasil mendapatkan salah satu diantara mereka maka pada tahap jethungan berikutnya A tetap sebagai pelaku dadi. Demikian permainan inidapat dilakukan beberapa tahap.