Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adat Sadranan Desa Jetis - Temanggung, Jawa Tengah |
| Karya Budaya | Adat Istidat Masyarakat |
| Karya Budaya Sub | Upacara Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Panitia Sadranan Desa Jetis |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Ign. Wahjudi Pantja Sunjata |
| Narasumber | Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Temanggung |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. TEMANGGUNG |
| Penginput Data | Dwi Hastuti, S.Pd. |
Sejarah :
Upacara adat Sadranan Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung diselenggarakan secara rutin setahun sekali pada setiap hari Jumat Paing bulan Ruwah. Tradisi Sadranan Desa Jetis sudah berlangsung secara turun-temurun sejak jaman dahulu kala. Tradisi Sadranan diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah, rejeki dan keselamatan yang telah diberikan selama ini, sehingga warga Desa Jetis dapat hidup tenteram dan sejahtera. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengenang arwah para leluhur desa yang semasa hidupnya telah berjasa merintis keberadaan desa. Selain itu, tujuan penyelenggaraan tradisi sadranan ini sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus untuk mengenang Nyi Nondo yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Jetis. Sampai saat ini tidak diketahui siapa Nyi Nondo itu dan berasal dari mana, namun warga masyarakat Desa Jetis meyakini bahwa ia merupakan cikal bakal atau leluhur perintis Desa Jetis. Tradisi selamatan ini sampai sekarang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, dan dikenal dengan nama Tradisi Sadranan Desa Jetis.
Diskripsi:
Upacara adat Sadranan Desa Jetis, diselenggarakan setiap tahun sekali pada hari hari Jumat Paing bulan Ruwah. Tradisi sadranan ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus untuk mengenang Nyi Nondo yang diyakini sebagai leluhur perintis desa atau cikal bakal Desa Jetis. Pelasnaan upacara adat sadranan ini melibatkan ratusan warga Desa Jetis dengan membawa sesaji yang berupa nasi tenong dan ingkung ayam yang jumlahnya kurang lebih 500 buah. Para peserta upacara membawa nasi bucu tenong, ingkung ayam dan aneka jajanan berdatangan di komplek makam desa yang dijadikan tempat ritual Sadranan. Seluruh peserta dengan penuh khidmat duduk berjajar mengikuti seluruh prosesi upacara, yang diawali dengan pembacaan Tahlilan di komplek makam, kemudian dilanjutkan dengan berdoa bersama, dipimpin oleh ulama desa. Seusai doa untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki dari Tuhan yang Maha Kuasa, makanan yang mereka bawa kemudian dinikmati sebagai ungkapan rasa syukur. Sementara itu sembari menikmati makanan, beberapa petugas mengambil potongan nasi bucu berikut sebagian lauk pauk dan jajanan untuk dikumpulkan . Hasil makanan yang dikumpulkan, setelah dikemas dalam kantong plastik, kemudian dibagikan kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir sebagai nasi berkat untuk dibawa pulang.