Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tingkep (Mitoni)
Sejarah : Upacara Tingkep atau selamatan merupakan salah satu aktivitas religius sepanjang hidup manusia. Di dalam ilmu antropologi upacara ini termasuk suatu krisis rites atau upacara krisis, dimana status anak dalam keadaan tidak menentu, mati atau hidup, sempurna atau tidak sempurna. Di dalam situasi demikian ini upacara krisis yang sebenarnya permohonan kepada Tuhan, agar anak dalam kandungan dalam keadaan sempurna. Deskripsi : Upacara Tingkep atau Mitoni adalah upacara selamatan bayi dalam kandungan yang berusia 7 (tujuh) bulan. Pada usia 7 bulan ini bayi sudah lengkap keadaannya baik fisik maupun mental sudah terbentuk secara lengkap. Bayi dalam kandungan 7 bulan sudah menerima sari ampat dan tiga cahaya yang disebut Trimurti. Trimurti sendiri ada 3 sinar yaitu suryo, condro dan kartika. Upacara Tingkep tersebut sesajinya berupa pala kependhem, bucang, mule luhur, apem, wedak ripih, gula gimbal, gula grinting, cala meni, jenang abang, jenang putih, dhawet (jenang sewu), rujak dan sebagainya. Gula gimbal tersebut berupa roti yang digambari muka seorang anak. Di dalam upacara ini si calon ibu dimandikan dengan air 7 sumber yaitu air sumur, air tuk (mata air), air sungai, air asam, air beras dan air landa (abu merang). Siraman ini melambangkan manusia kembali kepada status kelahiran semula, agar supaya bersih dari noda dan kesalahannya. Dalam adat masyarakat Ponorogo upacara siraman ini disebut adus tuk pitu. Air yang dipergunakan untuk mandi diletakkan di dalam tempurung kelapa gading dengan pasangan dari bambu (siwur). Kemudian si calon ibu berturut-turut berganti pakaian sampai 7 kali. Biasanya dalam siraman ini yang memandikan kaum tua. Setelah upacara siraman selesai diteruskan dengan lambang seolah-olah bayi tersebut lahir. Bayi dibuat dari kelapa gading yang digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Ratih. Kadang-kadang lambang berupa 2 buah kelapa gading yang diletakkan di atas pintu masuk kamar mandi. Setelah itu calon ibu didudukkan di atas tikar baru yang diberi kelut dan 4 buah senthir (lampu). Tikar dengan perlengkapan kelut dinamakan Candhi Murub (Candhi yang menyala).