Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Pekalongan |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Disbadpar Kab. Pekalongan |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Darto Harnoko |
| Narasumber | - Disbudpar Kab. Pekalongan, - Pekalongankab.go.id, - Buku Profil, Potensi, Peluang Investasi dan Kebijakan Pembangunan Kab. Pekalongan Tahun 2007 |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. PEKALONGAN |
| Penginput Data | Arni Devi Fitriani |
Dikisahkan tentang negeri Mataram yang damai da sejahtera pada masam kepemimipinan Raja SULTAN AGUNG HANYOKRO KUSUMO yang kekuasaannya mencakup seluruh pulau Jawa, Sumatra, Bali dan pulau lainnya. Pada waktu itu bangsa Belanda dan Portugis telah masuk dan mengijakkan kaki di tanah Jawa, karena Belanda masuk pada tahun 1596. Yang tepatnya semenjak kerajaan Demak Belanda sudah ada di tanah Jawa.
Babat tanah Pekalongan bermula dari kisah seorang pamuda yang bernama Joko bahu putra tunggal Ki-Ageng Cempaluk yang ingin mengabdikan diri di Kerajaan Mataram. Dia "Joko bahu" berasal dari desa kecil yang bernama Kesesi atau asal dari kata "Kesisian" yang artinya pengasingan. Karena Ki-Ageng Cempaluk adalah punggawa Mataram yang karena kesalahan apa lalu dia diasingkan dan membangun padepokan di Desa tersebut. Yang letaknya antara lain di hulu sungai comal . Konon kesaktian Ki Cempaluk ini sudah terdengar lama dan menjadi buah bibir di kraton Mataram. Maka tanpa banyak pertimbangan Sultan Agung menerima bakti Joko bahu.
Namun sudah menjadi syarat mutlak, setiap prajurit yang hendak mengabdi pada negara harus melalui tahap pendadaran atau uji kesetiaan pada negara terlrbih dahulu. Termasuk kemampuan mengatasi masalah dan olah keprajuritannya. Maka pendadaran tahap pertama yang diberikan Sultan adalah: membendung kali sambong, karena setiap musim kemarau selalu saja sawah-sawah rakyat sepanjang aliran sungai itu selalu kekeringan. dan dengan membendung kali sambong di Kabupaten Batang diharapkan air dapat naik dan mengairi sawah-sawah disekitar tempat itu sehingga hasil panen akan meningkat. Dan itu adalah salah satu kebijakan raja Mataram untuk meningkatkan kamakmurang negerinya di bidang pertanian. Sedang kali sambong sendiri terkenal angker, dan sudah beberapa kali dilakukan pembendungan namun selalu gagal.
Berangkatlah Joko bahu untuk membendung kali sambong, dengan diperbolehkan membawa beberapa orang prajurit. Al-kisah setelah pembendungan dimulai sedikit demi sedikit. Ditengah berlangsungnya proyek pembendungan terjadilah keanehan-keanehan yaitu: setiap pagi ketika para prajurit hendak melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai itu, ia selalu mendapatkan tanggul yang mereka kerjakan kemarih itu telah rontok dan bubar kembali. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari berturut-turut. Tentu saja hal itu membuat Joko bahu menjadi bingung bukan kepalang. Al-kisah Joko bahu tapa brata dan bertemu dengan siluman yang menunggui kali itu, siluman itu konon adalah welut putih, terjadi tawar-menawar kepentingan antara kedua belah pihak namun tak ada mendapat kata sepakat alias buntu, maka terjadilah perkelahian sengit antara kedua belah pihak konon akhirnya dimenangkan oleh Joko bahu.
Namun sudah menjadi syarat mutlak, setiap prajurit yang hendak mengabdi pada negara harus melalui tahap pendadaran atau uji kesetiaan pada negara terlrbih dahulu. Termasuk kemampuan mengatasi masalah dan olah keprajuritannya. Maka pendadaran tahap pertama yang diberikan Sultan adalah: membendung kali sambong, karena setiap musim kemarau selalu saja sawah-sawah rakyat sepanjang aliran sungai itu selalu kekeringan. dan dengan membendung kali sambong di Kabupaten Batang diharapkan air dapat naik dan mengairi sawah-sawah disekitar tempat itu sehingga hasil panen akan meningkat. Dan itu adalah salah satu kebijakan raja Mataram untuk meningkatkan kamakmurang negerinya di bidang pertanian. Sedang kali sambong sendiri terkenal angker, dan sudah beberapa kali dilakukan pembendungan namun selalu gagal.
Berangkatlah Joko bahu untuk membendung kali sambong, dengan diperbolehkan membawa beberapa orang prajurit. Al-kisah setelah pembendungan dimulai sedikit demi sedikit. Ditengah berlangsungnya proyek pembendungan terjadilah keanehan-keanehan yaitu: setiap pagi ketika para prajurit hendak melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai itu, ia selalu mendapatkan tanggul yang mereka kerjakan kemarih itu telah rontok dan bubar kembali. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari berturut-turut. Tentu saja hal itu membuat Joko bahu menjadi bingung bukan kepalang. Al-kisah Joko bahu tapa brata dan bertemu dengan siluman yang menunggui kali itu, siluman itu konon adalah welut putih, terjadi tawar-menawar kepentingan antara kedua belah pihak namun tak ada mendapat kata sepakat alias buntu, maka terjadilah perkelahian sengit antara kedua belah pihak konon akhirnya dimenangkan oleh Joko bahu.
Keberhasilan Joko bahu menjalankan tugasnya disambut dengan gembira oleh Sultan Agung. Lalu datanglah pendadaran yang kedua yakni membuka lahan baru di tepi pantai utara sebelah Kabupaten Batang, yakni alas Gambiran atau sekarang Gambaran, waktu itu alas Gambiran adalah alas yang sering dihindari oleh para rombongan pedagang yang melakukan perjalanan jauh karena keadaannya yang angker dan tak tersentuh. Dulu para rombongan pedagang yang melakukan perjalanan jauh lebih memilih lewat daerah sebalah selatan yang lebih aman.
Karena konon setiap orang yang masuk ke hutan Gambiran dia pasti hanya berputar-putar dan tak pernah bisa kembali keluar lagi dengan selamat., begitupun yang dialami para prajuritnya Joko bahu yang disuruh memasuki hutan itu da mereka tak kembali lagi.Mereka hanya berputar-putar tak tentu.
Kemudian al-kisah Joko bahu melakukkan tapa brata yaitu tapa ngidang atau meniru sifat kidang. Akan tetapi Joko bahu tetap tak mampu untuk mengalahkan raja siluman penunggu hutan itu. meka dengan sigap Joko bahu segera pulang ke padepokan Kesesi untuk mengadukan hal tersebut pada Ki ageng Cempaluk dan atas saran Kiageng Cempaluk, Joko bahu disarankan untuk "tapa ngalong" tapa brata yang meniru posisi kalong yaitu dengan tidur dengan kakimenggantung di pohon tiap siang hari selama 40 hari "Kemidian tempat dimana Joko bahu melakukan tapa ngalong itu kini disebut PEKALONGAN" (Kata "pe" yang menandakan sebuah tempat kalong adalah tempat dimana Joko bahu melakukan tapa kalong), setelah 40 hari berlalu, selesailah tapa ngalongnya, singkat cerita Joko bahu dapat mengalahkan raja siluman itu dan bisa melanjutkan menebang kayu-kayu disitu tanpa ada satu hambatanpun sampai selesai dan dapat pulang ke Mataram dan dengan membawa hasil.
Tentu saja kabar baik ini membuat hati Sultan Agung gembira, dan konon setelah Joko bahu sowan ke Mataram, dan Sultan Agung langsung menganugerahkan gelar Adipati dengan julukan KI-BAHU REKSO dan sekaligus menetapkan di daerah Kendal, mulailah sejak saat itu dia menjabat sebagai Adipati Kendal.
Akan tetapi cerita tak berakhir sampai disitu karena masih ada tugas yang masih terbengkalai, yaitu pendadaran tahap yang ketiga. Maka belumlah sempurna bahu rekso menjadi Adipati kalau belum menjalankan tugas yang ketiga yaitu ia ditugaskan untuk melamarkan seorang putri cantik dari kali salak yang konon bernama Nyi rantang sari.
Betapa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, nyi rantang sari yang hendak dipersembahkan Sultan agung justru jatuh cinta pada bahu rekso dan tak mau dibawa untuk dipersembahkan ke Mataram. Maka timbulah inisiatif dari bahurekso untuk mengganti dengan seorang putri yang tak kalah cantiknya yaitu endang kalibeluk, seorang putri anak seorang penjual srabi di desa KALI BELUK (sampai sekarang penjual srabi itu masih karena diturunkan secara turun-tumurun) akan tetapi sungguh sial, setelah disandingkan dengan Sultan agung endang kali beluk tak kuasa menahan luapan kegembiraannya dan akhirnya dia mengaku kalau dirinya bukan rantang sari yang dimaksud sultan agung. Hal ini tentu membuat sultan agung marah besar. Dia merasa telah ditipu oleh bahu rekso. Akan tetapi untuk menjatuhkan hukuman mati kepada bahu rekso, dapat dicegah oleh patih SINGARANU dan dia menyarankan agar sultan mengganti saja tugas pendadaran ketiganya dengan tugas yang sangat berat agar bahu rekso terbunuh dengan sendirinya.
Maka sultan agung menugaskan bahu rekso dengan tugas yang sangat berat yaitu menyerang belanda di JAYAKARTA "sekarang Jakarta" maka singkat cerita berangkatlah bahu rekso menyiapkan armada perang menuju Jayakarta. Dia memilih melewati jalur laut, atas saran ki Cempaluk sebab jalan darat konon senjata pusaka apapun akan hilang tuah atau kesaktiannya jika melintasi kali ci-pamali Brebes. Bahu rekso mempersiapkan tentaranya disebuah desa yang bernama KETANDAN namun nama desa itu lebih dikenal dengan nama WIRADESA "Wira" artinya prajurit, "desa" itu kampung jadi wiradesa adalah perkampungan prajurit dan dari situlah bahu rekso bertolak ke jayakarta.
Di jayakarta konon pasukannya dikumpulkan di daerah yang sekarang bernama MATRAMAN yang artinya mataram-man dan membendung sungai ciliwung hingga jendral RAVELES meninggal terserang malaria. akan tetapi belanda tak kehabisan akal mereka membakar lumbung-lumbung makanan tentara mataram sehingga mereka kehabisan perbekalan dan bahu rekso menderita kekalahan dan kekalahan itu membuat bahu rekso tak berani pulang ke kadipaten Kendal dia memilih mendirikan keraton kekadipatenanyang letaknya di sebelah selatan wiradesa tepatnya yang sekarang bernama desa kadipaten (yang artinya disitu pernah akan di jadikan kadipaten) namun kabar tersebut terendus oleh raja mataram dan akhirnya mataram mengutus seorang pendekar dari CHINA yang bernama TAN JIN KWEN yang kemudian diangkat dan di tetapkan sebagai adipati Pekalongan yang pertama setelah berhasil menyingkirkan bahu rekso.
Asal-usul Pekalongan
Asal usul nama Kota Pekalongan sebagaimana diungkapkan oleh masyarakat setempat secara turun tumurun terdapat beberapa versi. Salahsatunya disebutkan adalah pada masa Raden Bahurekso sebagai tokoh panglima kerajaan Mataram. Pada tahun 1628 beliau mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang VOC (Vereenigde Oost Indishe Compagnic / perserikatan Maskapai Hindia Timur) di Batavia. Maka ia berjuang keras, bahkan diawali dengan bertapa seperti kalong / kelelawar (bahasa Jawa : topo ngalong) di hutan Gambiran (sekarang : kampung Gambaran letaknya disekitar jembatan Anim dan desa Sorogenen).
Dalam pertapaannya diceritakan bahwa Bahurekso digoda dan diganggu Dewi Lanjar beserta para prajurit siluman yang merupakan pengikutnya. Namun semua gidaan Dewi Lanjar beserta para pengikutnya dapat dikalahjan bahkan tunduk kepada Raden Bahurekso. Kemudian Dewi Lanjar, yang merupakan utusan Ratu Roro Kidul memutuskan untuk tidak kembali ke pantai selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahurekso untuk tinggal di sekitar wilayah ini. Raden Bahurekaso memenuhi permohonan ini bahkan Ratu Roro kidul juga menyetujuinya. Dewi Lanjar juga diperkenankan tinggal di pantai utara Jawa Tengah. Konon letak keraton Dewi Lanjar di pantai Pekalongan sebelah sungai Slamaran. Sejak saat itu, daerah tersebut terkenal dengan nama “Pekalonganâ€.
Dalam versi lain disebutkan bahwa nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG-ALONG yang artinya hasil yang berlimpah. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Nama Pengangsalan ini ternyata juga ada dalam babad Mataram (Sultan Agung), yaitu :
“Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan, samya numpak palwa, gya ancal mring samodrane, lampahe lumintu, ing tirboyo lawan semawis, ing lepentangi, Kendal, batang, Tegal Sampun, Brebes lan Pengangsalan. Wong pasisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertataâ€.
Artinya : senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar. Pelayarannya tiada henti-hentinyamelewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon untuk berangkat ke Batavia guna menyerbu VOC Belanda)â€.
Konon, Pekalongan berdiri pada saat di desa Kesesi ada seorang terpandang dan sakti bernama Ki Ageng Cempaluk. Ia mempunyai putra bernama Raden Bahu. Pada waktu itu Kerajaan Mataram amat jaya dan KI ageng Cempaluk menyuruh putranya untuk mengabdi kepada Raja Mataram, yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Entah kesalahan apa yang diperbuat Raden Bahu sehingga sang raja menghukumnya dengan membuka hutan Gambiran. Menurut cerita hutan itu amat lebat dan dihuni oleh makhluk jahat. Karena ini Raden Bahu bertapa menggelantung seperti kelelawar atau kalong. Maka tapa sperti itu disebut tapa ngalong. Setelah bertapa, Raden Bahu berhasil membuka hutan, dan menjadikan ‘kota’ yang ramai yang dikenal dengan nama kota “Pekalonganâ€.