Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Legenda Panji Pulangjiwa |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Terancam Punah |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | -Data Pelaku Komunitas belum ada- |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Sri Retna Astuti |
| Narasumber | Astutik, Panji Pulangjiwa dalam Malang Tempo Doeloe, Malang: Banyumedia Publishing, 2006. |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. MALANG |
| Penginput Data | Arni Devi Fitriani |
Sejarah :
Tahun 1461 Malang jatuh ke tangan kerajaan Demak. Sejak saat itu daerah Malang berada dalam kekuasaan Islam. Setelah itu kerajaan Demak runtuh. Daerah Malang kemudian dikuasai Untung Surapati. Itu terjadi antara tahun 1686 hingga 1706.
Sejak jaman kerajaan Demak yang ingin menaklukkan wilayah ini maupun kerajaan Mataram yang juga punya niat serupa, penduduk wilayah ini dikenal sangat gigih mempertahankan diri. Mereka selalu ngalang-alangi atau malangi (menghalangi) keinginan pihak lain yang akan intervensi ke wilayah ini.
Deskripsi :
Pada masa kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, kerajaan ini melakukan ekspansi ke wilayah Jawi Wetan (Jawa Timur) dan bisa menguasai Mojokerto, Tuban, Tulungagung, Madura dan sebagainya. Salah satu kadipaten yang belum mau menyerah adalah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Adipati Rangga Tohjiwa.
Adalah Panji Pulangjiwa adik dari Adipati Rangga Tohjiwa yang baru saja menikah dengan Prabaretna yang sedang pergi ke pertapaan Panembahan Argopura untuk menanyakan arti mimpi dari isterinya. Selama ditinggal ke pertapaan, Kadipaten Malang diserang oleh Mataram yang kemudian dilawan oleh Prabaretna. Akhirnya Prabaretna gugur dalam perang itu.
Sekembalinya dari pertapaan, Pulangjiwa mengetahui kalau isterinya gugur, ia kemudian menuju Mataram untuk balas dendam. Sesampai di Mataram, ia melihat sosok wanita yang mirip dengan isterinya. Ia lalu mengikuti hingga sampai ke dalam kota Mataram. Ia tidak tahu kalau sosok wanita yang mirip isterinya itu merupakan strategi Mataram untuk memancing Pulangjiwa.
Akhirnya Pulangjiwa tertangkap dan dibunuh. Demikian akhirnya Sultan Agung berhasil menaklukkan wilayah yang selama ini mokong, selalu ngalang-alangi atau malangi keinginannya untuk menguasai wilayah itu.