Permainan Gauk

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaPermainan Gauk
Karya BudayaAdat Istidat Masyarakat
Karya Budaya SubRitus
Kondisi Saat IniSudah punah atau tidak berfungsi lagi dalam masyarakat
Status BudayaPenetapan
Pelaku KomunitasDrs. Salamun, dkk
Pencatat Karya BudayaSri Sumarsih
NarasumberBudaya masyarakat suku bangsa Jawa di Kab. Wonosobo. Penerbit Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKAB. WONOSOBO
Penginput DataArni Devi Fitriani
Sejarah : Permainan gatuk atau di Yogyakarta disebut benthik. Permainan gatuk tersebar di seluruh wilayah Wonosobo. Alat permainan dibuat dari kayu, biasanya dipilih dari ranting pohon kemlandingan tetapi dapat juga diganti dengan kayu lain asal dari jenis kayu keras. Tujuan memilih kayu keras agar bila kayu ini dilempar dapat jatuh di tempat yang jauh. Peralatan kayu ini dibuat dua potong, satu lebih panjang dengan ukuran 30 cm disebut bentong, sedang yang satu ukuran lebih pendek dengan antara 10-15 cm disebut janak. Cara membuat mula-mula kayu yang telah dipilih dikupas kulitnya, selanjutnya dijemur agar kering. Deskripsi : Permainan gatuk biasanya dilakukan oleh anak laki-laki yang usianya sekitar 10 tahun, hal ini karena dalam permainan gatuk membutuhkan kekuatan fisik dari masing-masing pemain. Permainan gatuk dapat dilakukan perorangan sehingga pelakunya cukup 2 orang, jika pemainnya lebih dari 2 orang maka jumlah pemainnya harus genap sebab harus berpasangan. Mula-mula dibuat lubang di tanah yang bentuknya memanjang disebut lowakan, lubang ini digunakan untuk meletakkan janak, janak ini dicukit dengan bentong, saat mencukit ini diusahakan janak dapat terlempar jauh. Pemain gatuk baik yang perorangan atau rombongan terlebih dahulu melakukan undian untuk menentukan kelompok mana yang berhak main dahulu, caranya dengan hom pingsut. Saat mencukit janak diusahakan terlempar jauh sehingga tidak dapat ditangkap oleh lawan, sebab apabila sampai tertangkap oleh pihak lawan permainan dianggap mati sehingga yang semula jaga lalu menjadi pemain sedang yang semula pemain menjadi penjaga. Apabila janak tidak berhasil ditangkap pihak lawan maka pihak lawan akan melempar lowakan, hal ini berhasil maka mereka dianggap menang sehingga gantian pemain menjadi penjaga. Apabila janak jatuhnya janak yang dilempar ke lowakan jaraknya kurang dari ukuran bentong maka pihak pemain dianggap mati sehingga perlu gantian. Sebaliknya jika janak yang dilempar lawan itu jatuhnya lebih dari ukuran satu bentong maka jarak tersebut diukur dengan bentong. Apabila ukuran ini sudah diketahui maka jumlah angka tersebut lalu dicatat hingga permainan berakhir. Setelah dibandingkan jumlah angka kemenangan ini maka pihak yang jumlah nilainya lebih banyak maka dialah yang menjadi pemenang. Permainan gatuk dapat berulang kali.