Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Batik Salem |
Di dukuh Pagenjahan Desa Kalierang tersebut terdapat 50 lebih warga yang menjadi perajin emping. Makanan ringan yang selalu hadir dalam jamuan hajatan di kampung-kampung itu sudah menjadi mata pencaharian warga setempat, yang dilakukan secara turun temurun. Baik sebagai kerja sambilan, maupun matapencaharian. Rukmini (53), perajin emping mlinjo mengatakan, dia telah lebih dari 20 tahun mengeluti usaha ini. Dia mendapatkan keterampilan pembuatan emping dari orangtuanya.
’’lmu pembuatan emping bisa dipelajari siapa saja. Sejak ditemukannya dahulu sampai sekarang kerajinan emping mlinjo tidak pernah dipatenkan. Ilmu ini sudah menjadi milik masyarakat dan berkembang secara turun temurun," jelasnya. Untuk mendapatkan bahan baku, perajin emping di Dukuh Pagenjahan mendatangkan mlinjo yang diperoleh dari Desa Langkap, Kecamatan Bumiayu. Namun, menurut Rukmini, saat ini keberadaan petani yang menanam pohon mlinjo semakin sulit di temukan.
Karenannya, untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku emping, perajin terpaksa mendatangkan mlinjo dari beberapa daerah, seperti Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong; dan Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan. ’’Sekarang ini, harga mlinjo mencapai Rp 5.000 per kilogram. Sementara, harga jual emping Rp 20.000 per kilogram. Sebelum harga mlinjo naik, harganya Rp 18.000 per kilogram. Namun, karena bahan baku dan minyak tanah naik, terpaksa harga jual emping juga dinaikkan menjadi Rp 20.000 per kilo," ungkap dia.
Sebagai daerah yang sudah dikenal sebagai penghasil emping, para perajin di sana senantiasa menjaga mutu dan kualitas bahan baku serta pembuatannya. Karenanya, dalam pemilihan mlinjo sebagai bahan utama emping, harus yang benar-benar merupakan biji yang sudah tua. ’’Tujuannya, agar emping yang dihasilkan enak rasanya, gurih, dan tidak pahit. Berbeda jika biji mlinjo yang dipakai tidak tua, maka hasil empingnya kurang baik rasanya," kata Rukmini.
Dalam proses pembuatan emping mlinjo, para perajin masih dilakukan dengan cara tradisional. Yakni, biji mlinjo sebelumnya disangrai kemudian ditumbuk di atas lempengan batu. Untuk satu lempeng emping ukuran normal, membutuhkan lima biji mlinjo. Selesai ditumbuk, emping dijemur hingga kering dan siap dijual. Dalam pemasarannya, selain dilempar ke pasaran lokal, emping mlinjo asal Pagenjahan juga dipasarkan hingga wilayah Banyumas, Tegal, bahkan hingga Jakarta.
Meski demikian, para perajin emping masih dihadapkan pada persoalan keterbatasan permodalan, sehingga sulit untuk dapat berkembang. Karenannya, mereka membutuhkan bantuan permodalan sehingga dapat memenuhi kebutuhan penyediaan bahan baku. ’’Sekarang, rata-rata perajin melakukan produksi hanya jika punya modal untuk membeli bahan baku. Kalau tidak ada modal, ya terpaksa berhenti atau sekadar membantu di tempat pembuat emping lain," keluh Dirman (51), perajin emping lainnya.
Menurut dia, para perajin pernah menerima bantuan alat penumbuk mlinjo yang praktis dari Kabupaten Brebes. Tapi alat penumbuk itu tidak sesuai dengan alat standar yang biasa digunakan perajin, karena hanya dapat digunakan untuk menumbuk satu biji mlinjo dan tidak bisa untuk membuat ukuran emping normal dengan lima biji mlinjo. ’’Perajin di sini sudah terbiasa menggunakan cara tradisional, sehingga alat penumbuk jadi dianggap kurang praktis," ujarnya.(*)