Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Asal Mula Nama Parakan |
| Karya Budaya | Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku |
| Karya Budaya Sub | Pengetahuan Tradisional |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | -Data Pelaku Komunitas belum ada- |
| Pencatat Karya Budaya | Sri Sumarsih |
| Narasumber | Brosur koleksi Pemda Tingkat II Kabupaten Temanggung Maret 1977, halaman 12 |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. TEMANGGUNG |
| Penginput Data | Arni Devi Fitriani |
Sejarah :
Ada beberapa tempat yang pada saat memberi nama tempat tersebut dikaitkan dengan suatu kejadian. Kejadian tersebut misalnya pada jaman dahulu di suatu tempat tumbuh pohon jati yang masih muda, selanjutnya tempat itu lalu dinamakan Jatinom. Kejadian lain misalnya ada seorang tokoh yang melakukan perjalanan, di suatu tempat tokoh ini mengalami suatu peristiwa. Selanjutnya tokoh lalu berpesan kelak tempat itu bila sudah ramai dihuni orang agar diberi nama sesaui dengan pesannya yang dikaitkan dengan peristiwa yang dialami. Demikian pula nama Parakan konon juga ada ceritanya.
Deskripsi :
Pada masa akhir Kerajaan Demak masa itu Temanggung masuk wilayah Kedu. Sebelum meninggal Pengeran Trenggono raja Demak membagi wilayah kekuasannya kepada para putranya. Putra pertama yang bernama Pangeran Prawoto memperoleh bagian wilayah timur yaitu sepanjang Sungai Solo hingga Surabaya. Menantunya yang bernama Pangeran Hadiri yang kemudian bergelar Sunan Kalinyamat mendapat bagian pantai utara. Raden Panji mendapat bagian daerah Pajang yang kemudian berkembang menjadi Mataram Islam. Wilayah Temanggung dan Begelen menjadi bagian putranya yang bernama Ario Mas Timur.
Putra Sultan Pajang yang bernama Pangeran Benowo meninggalkan keraton karena sakit hati. Ia bersama 4 orang abdinya pergi mengembara hingga sampai di suatu tempat yang tanahnya subur letaknya dipinggir sebuah sungai. Di tempat ini Pangeran Benawa bersama abdinya membuka pemukiman. Sejak saat itu mulai berdatangan orang yang ikut menetap di tempat tersebut. Orang-orang yang datang ikut menetap di pemukiman Pangeran Benawa ini disebut Marak (menghadap). Selanjutnya tempat tersebut dinamakan Parakan, nama ini berasal dari kata marak. Perkembangan selanjutnya Parakan berstatus menjadi kota kecamatan.