Kerajinan Tenun/Sedekah Laut

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaKerajinan Tenun/Sedekah Laut
Karya BudayaKemahiran Kerajinan Tradisional
Karya Budaya SubPakaian Tradisional
Kondisi Saat IniMasih Bertahan
Status BudayaPencatatan
Pelaku Komunitas-Data Pelaku Komunitas belum ada-
Pencatat Karya BudayaSuhatno
NarasumberDra. Watie Moerang, dkk. Pakaian Adta Tradisional Daerah Jawa Timur. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1987.
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKAB. PONOROGO
Penginput DataArni Devi Fitriani
Sejarah : Untuk menjadi pengrajin tenun salah satu persyaratannya adalah sudah pernah belajar (magang) kepada pengrajin yang berpengalaman. Keahlian menenun diperoleh secara turun-temurun dan biasanya kepandaian ini diwariskan kepada anak-anak perempuannya. Untuk menjadi seorang penenun diperlukan ketekunan dan ketelatenan. Sedangkan ketekunan dan ketelatenan menurun di Bekare hanya dimiliki oleh ibu-ibu. Jenis produksinya adalah jenis kain yang fungsi utamanya masih sering dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti kain gendhong dan kain lawon. Kain gendhong berukuran panjang ± 280 cm, dengan tambahan jumbai yang berukuran panjang ±42 cm, lebar ±61 cm. Dinamakan kain gendhong karena jenis kain ini biasa dipergunakan untuk mengendhong bagi kaum ibu-ibu. Motif kain gendhong antara lain motif lerek besar, lerek kecil. Sedang kain lawon yaitu jenis kain tenun yang dipergunakan untuk membungkus jenazah. Ukuran panjang ± 250 cm dan lebar ± 85 cm. Warna kainnya putih. Deskripsi : Jenis bahan pokok untuk kerajinan tenun adalah : a. Bahan pokok yaitu kapas yang diproses menjadi benang yang disebut benang lawe. b. Bahan penunjang yaitu masi dicampur dengan air sehingga menyerupai adonan kanji (lem). Bahan ini digunakan untuk mengeraskan benang lawe sehingga benang tersebut kaku. Alat tenun tredaisional secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam alat yaitu alat mengantih dan alat tenun. Kedua alat ini mempunyai kontruksi dan fungsi yang berbeda, tetapi merupakan satu kastuan yang saling menunjang. Alat mengantih yaitu alat yang dipergunakan untuk memproses kapas menjadi benang. Sedangkan alat tenun merupakan alat yang dipergunakan untuk memproses benang menjadi kain tenun. Pekerjaan mengantih ataupun menenun dapat dilakukan oleh satu orang secara berurutan, namun dapat pula dikerjakan oleh dua orang secara terpisah. Kedua pekerjaan ini dilakukan oleh kaum ibu. Pekerjaan mengantik ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah tua. Hal ini disebabkan untuk mengantih diperlukan ketekunan dan kesabaran tersendiri. Kecuali itu pekerjaan ini lebih ringan bila dibandingkan dengan pekerjaan menenun.