Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Nyadran di Dusun Pete |
Sejarah :
Ada sebagian masyarakat Jawa yang menganggap bulan Ruwah adalah saat yang baik untuk mengenang arwah leluhur dan cikal bakal. Anggapan semacam ini juga berlaku bagi sebagian besar masyarakat Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Nyadran di Dusun Pete dilakukan dua tahun sekali, harinya selalu memilih hari Jum’at sedapat mungkin Jum’at Kliwon. Kegiatan sadranan dilakukan di makam yang jaraknya dari Dusun Pete 2 km ke arah selatan. Di makam umum ini terdapat makam Kyai Keramat dan Nyai Yudokusumo alias Jayakusuma. Kedua tokoh ini semasa hidupnya diyakini sebagai pimpinan pejuang melawan penjajah Belanda. Selain itu mereka juga dianggap sebagai cikal bakal di wilayah Desa Kembangsari. Pada kegiatan sadranan ini ada sejumlah kambing berbulu putih yang disembelih di makam. Kambing ini merupakan sumbangan dari warga yang merasa cita-citanya terkabul sehingga berbadan menyumbang kambing pada saat Dusun Pete melakukan sadranan. Sedang ada rejeki. Tentang jumlah kambing dari hasil sumbangan orang yang bernadar. Sebagai contoh pada nadir tahun 2008 ada 130 ekor kambing, tetapi pada sadranan tahun 2010 (Jum’at Kliwon 16-07-2010) jumlah kambing ada 112 ekor. Orang yang bernadar saat sadranan tidak hanya berasal dari Pete, tetapi banyak pula yang berasal dari wilayah Desa Kembangsari, bahkan ada yang berasal dari luar Kecamatan Kandangan.
Deskripsi :
Tradisi nyadran di Dusun Pete yang dilakukan tiap dua tahun sekali ternyata dimeriahkan oleh warga di wilayah Desa Kembangsari. Pelaksanaan sadranan ini adalah sebagai berikut :
Pagi hari bertepatan Jum’at Kliwon bulan Ruwah para warga telah berkumpul di depan masjid (disebut Masjid Agung). Saat itu kepala desa yang bernama Arif Fatori mengenakan pakaian khusus seperti busana Jawa. Mereka berdiri dengan posisi siap berbaris. Urutan paling depan kepala desa, di belakangnya berdiri para pamong desa, disusul orang yang memanggul tumpeng yang disebut “Argoduga” berisi nasi dan hasil bumi. Di belakang tumpeng “Argoduga” berdiri orang yang memanggul pusaka parang Jayakusuma, konon parang ini peninggalan tokoh Jayakusuma. Di belakang pemanggul parang telah siap orang yang memegang sejumlah kambing berbulu putih.
Setelah susunan posisi barisan siap, rombongan lalu berjalan kepala desa yang urutan paling depan mengendarai kuda bergerak ke arah makam. Selanjutnya urutan sesuai ketika pada saat siap berangkat. Pada saat rombongan telah sampai di depan makam, di sana telah ditunggu para warga dari luar Desa Pete yang ingin ikut memeriahkan sadranan. Di pintu gerbang makam, kepala desa menyerahkan parang jayakusuma kepada juru kunci (Jamal Mahadi). Parang ini digunakan untuk menyembelih kambing yang paling awal, semua kambing disembelih di kompleks makam. Sementara kambing-kambing baru disembelih tumpeng Argoduga yang terdiri dari nasi serta hasil bumi yang terdiri dari sayur mayor, buah-buahan, dan padi diperebutkan oleh para pengunjung. Menurut keterangan daging kambing yang disembelih itu tidak boleh dibawa pulang dalam keadaan mentah melainkan harus dimasak di lokasi makam. Setelah semua daging kambing selesai dimasak kemudian dibagikan kepada hadirin.