Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Kesenian Soreng - Magelang, Jawa Tengah |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Visual |
| Kondisi Saat Ini | Masih Bertahan |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | -Data Pelaku Komunitas belum ada- |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Ign. Wahjudi Pantja Sunjata |
| Narasumber | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magelang, Jawa Tengah |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. MAGELANG |
| Penginput Data | Emi Ratnawati |
Sejarah:
Sampai saat ini asal mula kesenian Soreng tidak diketahui secara pasti, kesenian ini merupakan wujud spontanitas dalam berekspresi dan berapresiasi dalam berkesenian masyarakat lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Kesenian ini menggambarkan tentang kehidupan orang-orang lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang hidupnya akrab dengan alam. Tari Soreng adalah kesenian yang mula-mula hidup dalam masyarakat Dusun Warangan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Gerakan kesenian Soreng seperti pada kesenian-kesenian tradisional di lereng merapi lainnya seperti kesenian Rodad, Reog Thotok Uwok, Kobrosiswo, Shalawatan, Badui, Truntung dan lain-lain. Para penari kesenian Dayakan adalah kelompok masyarakat yang mata pencaharian sebagai pedagang, petani, peternak, buruh, dan sebagainya. Kesenian sampai saat ini masih bertahan di tengah-tengah masyarakat pedesaan lereng gunung Merapi dan Merbabu.
Deskripsi:
Soreng berasal dari kata soroking prajurit yang ramai-ramai membela "wilayah". Tari soreng ini sudah ada/muncul tahun 1940-an. Tarian ini mengadopsi dari prajurit Mataraman. Kesenian Soreng merupakan seni peran, dalam tari soreng tersebut ada tokoh Aryo Penangsang, Patih Metaun, Panglima, Soreng Rono, Soreng Pati dan 2 orang pekathik berkuda. Dalam tari Soreng Aryo Penangsang berperang melawan Brawijaya. Tari ini menggambarkan para prajurit baru melakukan gladi perang di alun-alun. Kelompok-kelompok tari prajurit ini hidup di lereng Gunung Merbabu, Gunung Andong. Kesenian ini muncul semakin banyak setelah kesenian ini terpilih sebagai penyaji terbaik tingkat nasional pada tahun 1995 di Taman Mini Indonesia Indah pada acara festival kesenian rakyat.