Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tayub Jono Ronggeng/Ledhek - Temayang, Bojonegoro Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | H. Dasuki |
| Pencatat Karya Budaya | Drs. Sukari |
| Narasumber | Sumber lisan dari informan bapak H. Dasuki (55 tahun) |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. BOJONEGORO |
| Penginput Data | Emi Ratnawati |
Deskripsi : Penari tayub wajib mampu menarikan gambyong sebuah tarian klasik dengan gaya lembut, karena tari ini adalah pembuka penyambut tamu dan sebagai tolak ukur seorang penari tayub. Sebelum menjadi seorang penari tayub, belajar dengan seniornya untuk ikut tampil bila mendapat tanggapan dengan bayaran sekedarnya, bahkan tanpa dibayarpun diikuti. Hal ini sebagai pembelajaran mental maupun kemampuan menarinya. Bila dianggap sudah cukup mumpuni, maka akan ditawari untuk tampil sendiri.
Setelah tari gambyong, kemudian menarikan irama-irama yang sedikit rancak dengan gending-gending, lagu-lagu campursari atau langgam Jawa. Tarian tayub ini diikuti penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat untuk ikut menari dengan dikalungkannya sebuah selendang (sampur). Para tamu atau penonton pria sebagai objek bagi para penari wanita untuk menari bersama mereka, yang diharapkan memberikan sedikit imbalan berupa uang (sawer).
Meskipun ada sebagian yang menilai tayub merupakan pertunjukkan yang kurang baik (negatif) seperti disalahgunakan dengan mabuk-mabuk’an, berpesta foya, dan bermain mata dengan perempuan. Namun, sebetulnya pada hakikatnya pertunjukkan tersebut sarat dengan norma-norma dalam masyarakat. Bentuk adiluhung ditunjukkannya dengan setiap penampilan antara ledhek dengan pengibing selalu ada jarak, sehingga dapat menghilangkan kesan negatif.
Tari Tayub dalam pertunjukkan juga disiapkan berbagai ritual atau doa bersama demi kelancaran pertunjukkan yang akan digelar. Biasanya yang pertama Nguyu-uyu (manghayu-hayu), yang artinya penghormatan kepada semua tamu yang hadir sebelum acara dimulai. Hal ini sebagai apresiasi atas kehadiran para penonton yang datang lebih awal. Kemudian bedhayan, yang merupakan tarian pembuka sebelum pertunjukkan tayub dimulai. Selanjutnya talu gendhing sebagai pengantar Tayub akan dimulai, dan beksan yang menandakan tarian tayub telah dimulai.