Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Kerajinan Batik dan tenun gedhog - Tuban, Jawa Timur |
Tenun gedhog dan batik tulis Margorejo merupakan warisan turun temurun. Menurut ibu Rukayah, kapan keberadaan kerajinan ini tidak paham dan belum ada yang menjelaskan tahun mulai kerajinan ini. Beliau merupakan keturunan ketiga dari orang tua yang dulu pembatik.
Batik ini semula pewarnaannya memakai bahan alami, tetapi pada tahun 1977 diadakan pelatihan pewarnaan menggunakan pewarna kimia dari Pemerintah Daerah. Kemudian ada salah satu orang keturunan Tiongkok (panggilan Hok) setiap kamis dan minggu mengumpulkan pembatik dengan hasilnya dibawa ke pak Hok untuk diberikan pembinaan pewarnaan, dengan melibatkan dua desa..
Setelah pembinaan, peralatan dan bahan pewarnaan dimanfaatkan. Dulu satu desa hampir semua penenun dan pembatik, jumlah mencapai ratusan. Kini tinggal beberapa orang dan yang dibawa koordinasi beliau sekitar 20 orang perajin batik dan tenun gedog. Bahan baku tenun dari kapas yang ditanam masyarakat sekitar pada musim kemarau. Bahan benang (lawe) yang dibuat tenun didapat dari perajin yang khusus pembuat benang yang ada di sekitar Desa Margomulyo Desa yaitu Kedungrejo, Gaji, Karanglo, Temayang, dan Margomulyo. Ukuran tenun bukan meteran, tetapi disebut udeng, sedangkan kain disebut lawon. Untuk tenun gedog kain slendang dan kain panjang (jarik).
Pembuatan tenun lebih rumit, karena benang harus dikaji, lalu benang direbus,dan disikat, dikeringkan dan dipisahkan benangnya. Selanjutnya diulur dengan alat manen untuk di hani (dijejer), kemudian benang di ukel (digulung). Pewarnaannya ada yang alami (maoni, daun jambu, duwet) atau yang disebut tom, ada yang bahan kimia. Perajin masih mempertahankan batik tulis, tidak batik cap karena khawatir akan membuat perajin malas yang sifatnya spontan, dan menurunkan kualitas batik tulis. Ciri khas batik kerek menggunakan ren-ren (bentuk sirip) apapun motifnya, tentu diberi ren-ren. Motif batik di sini ada sekitar 25 motif, antara lain ganggeng, kembang kluwih, kembang waluh, kijing miring dan lokcan.
Dulu hasil kerajinan berupa kain blaco yang hanya dibuat kain gendong dan jarik, kemudian sekarang bisa dibuat batik seperti kaos, rok, baju. Selain Margorejo, diwilayah Kerek sebagai perajin tenun gedog dan batik ada di Desa Kedungrejo, Gaji, Karanglo, Temayang, dan Margomulyo.
Pemasarannya setiap hari Senin dan Jum’at di pasar Kerek, sehingga batik yang akan dijual Senin batiknya hari Minggu dicelup, dijual hari Jum’at Kamis dijual. Setiap perajinan membawa hasil kerajinannya. Setelah dibentuk kelompok pemasarannya bisa terkoordinir. Ibu Rukayah yang ditunjuk sebagai koordinator pewarnaan dan pemasaran, dan tiap tahun perajin usahanya berkembang, sehingga muncul pengusaha-pengusaha batik, yang jumlahnya 20 pengusaha di Desa Margorejo.