Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Watu Ulo/Legenda Watu Ulo - Jember Jawa Timur |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Cerita Rakyat |
| Kondisi Saat Ini | Terancam Punah |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Job Pamungkas |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum. |
| Narasumber | Wawancara dengan Job Pamungkas. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember. Jalan Jawa No. 74 Jember wawancara dengan Anshori, di Watu Ulo, Jember. http://www.merdeka.com/gaya/mitos-ular-terbelah-asal-mula-terbentuknya-watu-ulo-jember-wisata-jember-11.html |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. JEMBER |
| Penginput Data | Arni Devi Fitriani |
Sejarah :
Nama Watu Ulo cukup di kenal oleh masyarakat Jember dan sekitarnya. Watu Ulo merupakan sebuah pantai yang indah dan menjadi tempat wisata di Jember. Asal usul cerita tentang Watu Ulo ada beberapa versi. Salah satunya adalah cerita tentang ular yang sangat besar dan masyarakat menamakannya Nogo Rojo. Sang Nogo Rojo ini dikalahkan oleh dua orang pemuda dan seekor ikan mina yang bisa berbicara.
Konon nama Watu Ulo diambil dari adanya deretan batu memanjang di ada di pantai dan berbentuk seperti sisik ular. Dari bentuk batu itulah kemudian orang mengenal daerah pantai itu dengan sebutan Watu Ulo. Sampai sekarang masyarakat mengenal nama pantai itu dengan sebutan Pantai Watu Ulo. Konon Pantai Watu Ulo dipercayasebagai tempat tinggal yang dihuni oleh Nogo Rojo yang berwujud ular raksasa. Nogo Rojo yang menguasai wilayah pantai ini memakan semua hewan yang ada di dalamnya, hingga masyarakat tidak bisa mendapatkan makanan dari pantai tersebut. Tersebutlah dua orang pemuda yang pergi memancing di daerah tersebut dan setelah beberapa lama mendapatkan seekor ikan mina. Anehnya ikan tersebut bisa berbicara. Si ikan minta dilepaskan dan sang pemuda akan diberi sisik emas. Namun sang ikan mina dimakan Nogo Rojo dan peristiwa itu membuat marah Raden Said dan Raden Mursodo (sang pemancing) hingga Nogo Rojo dibunuh dan tubuhnya tertinggal dipantai dan berubah menjadi batu bersisik yang memanjang di pantai.
Deskripsi :
Cerita rakyat yang berkembang di daerah Watu Ulo tentang pantai itu adalah sebagai berikut:
Masyarakat mempercayai bahwa Pantai Watu Ulo itu adalah tempat tinggal seekor ular raksasa yang bernama Nogo Rojo. Sang ular tersebut memakan semua makanan yang ada di laut, sehingga masyarakat tidak ada yang bisa mendapatkan makanan dari laut. Pada suatu ketika datanglah dua orang pemuda bernama Raden Said dan Raden Mursodo. Kedua pemuda itu adalah anak dari suami istri bernama Aki dan Nini Sambi. Kedua pemuda itu memancing di pantai dan sampai beberapa lama baru mendapatkan seekor ikan kecil yakni ikan mina. Anehnya si ikan mina dapat berbicara dan meminta kepada Raden Mursodo agar dirinya dilepaskan lagi di pantai. Sebagai gantinya ikan mina tersebut akan memberikan sisik yang bisa berubah menjadi emas untuk Raden Mursodo. Raden Mursodo menyetujuinya dan melepas ikan mina itu kembali ke laut.
Begitu ikan mina dilepaskan langsung dimakan oleh Nogo Rojo. Hal itu membuat marah Raden Mursodo. Akhirnya Raden Mursodo berkelahi dengan Nogo Rojo dan berusaha mengeluarkan ikan mina dari perut Nogo Rojo. Raden Mursodo dapat mengalahkan Nogo Rojo, dan tubuh Nogo Rojo terbelah menjadi tiga bagian. Bagian kepala konon jatuh di daerah Banyuwangi, bagian tubuh tetap ada di Jember dan berada di Pantai Watu Ulo, sedangkan ekornya jatuh di Pacitan.