Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Can Macanan Kadhuk/Harimau Karung - Jember, Jawa Timur |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Terancam Punah |
| Status Budaya | Penetapan |
| Pelaku Komunitas | Bintang Timur |
| Pencatat Karya Budaya | Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum. |
| Narasumber | Sumarto, Jalan Kalimantan I/55 Jember Nasib Kesenian Tradisional yang Semakin Tergusur . http://www.jemberonline.com/index.php/keliling-jember/2467-nasib-kesenian-tradisional-yang-semakin-tergusur |
| Provinsi | Jawa Timur |
| Kabupaten/Kota | KAB. JEMBER |
| Penginput Data | Arni Devi Fitriani |
Sejarah :
Seni pertunjukan Can Macanan Kadhuk termasuk kesenian yang sudah lama berkembang di Jember. Can Macanan Kadhuk adalah seni tari yang didominasi replika seekor harimau. Can Macanan Kadhuk merupakan seni pertunjukan gabungan tari Barongsai dari Cina dan gerakan tari Reog Ponorogo.
Sesuai dengan namanya, kesenian (seni tari) Can Macanan Kaduk merupakan seni yang mendapat pengaruh dari Madura. Hal itu tampak sekali dari pengulangan nama Can Macanan, dimana pengulangan seperti itu lazim ada di daerah Madura.
Menurut penuturan informan, awalnya kostum macan dipakaikan di sebuah boneka dan diletakkan di sawah. Boneka macan itu diberi mantera. Tujuannya agar orang tidak berani mengambil atau mencuri hasil sawah (padi, tembakau dan lainnya). Seiring perkembangan zaman,boneka macan yang ditaruh ditengah sawah itu sudah tidak diikuti oleh para generasi penerus. Namun hal itu menginspirasi seorang tokoh dariMadura yang telah lama tinggal di Jember. Kustom macan itu diambil dan dikembangkan untuk sebuah seni tari. Dari itulah kemudian seni itu berkembang sampai sekarang. Namun begitu, keberadaan kesenian itu tidak lagi secerah pada tahun 1990 an, karena saat sekarang dapat dikatakan hanya tinggal beberapa grup seni yang masih memainkan kesenian tersebut. Salah satu grup itu adalah Bintang Timur dengan pembinan David Iswanto. Grup lainnya adalah Barata Putra pimpinan Iskandar.
Deskripsi :
Can Macanan Kadhuk merupakan seni pertunjukan gabungan tari Barongsai dari Cina dan gerakan tari Reog Ponorogo. Seni pertunjukan Can Macanan Kadhuk termasuk kesenian yang sudah lama berkembang di Jember. Sesuai dengan namanya Macanan Kaduk, seni tari yang didominasi replika seekor harimau terbuat dari rangkaian bambu dan sejumlah bulu imitasi dari bahan kain karung goni atau plastik. Sedangkan kepala harimau terbuat dari kayu rimba campur yang dipilih lebih lunak, sehingga lebih mudah dibentuk dan diukir serta saat diberi pewarna tidak cepat pudar.
Rangkaian anatomi tubuh harimau dibuat semacam lingkaran dari bambu jenis apus yang berfungsi sebagai rongga perut harimau. Rongga yang memiliki kelenturan hingga 180 derajat ini berguna saat melakukan gerakan sang harimau memakan anak-anak dan mengeluarkannya lagi. Gerakan ini adalah puncak dari Macanan Kaduk yang paling digemari penonton.
Biaya membuat sebuah replika harimau berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, dengan berat rata-rata 25 kilogram. Ketika adegan memakan anak-anak, beban Macanan Kaduk akan terasa lebih berat dari bobot sebenarnya. Tak heran jika Macanan Kaduk yang dimainkan oleh dua orang ini hanya tampil paling lama 30 menit. Grup kesenian ini biasanya beranggotakan 40 orang, termasuk pemusik dan penyanyi. Biasanya, kesenian perpaduan tradisional Cina dan Ponorogo tersebut hanya dipentaskan pada malam hari.
Kesenian tradisional sempat menjadi primadona pada tahun 1990-an. Bila dulu kesenian ini bisa ditonton setiap hari, kini semakin jarang dijumpai di tengah masyarakat. Nasib para senimannya pun memprihatinkan. Meski terbilang kesenian langka dan tertua, nasib kesenian Can Macanan Kaduk sangat memprihatinkan. Bahkan sejak 10 tahun silam, telah dianggap punah. Pasalnya, selain tak ada regenerasi, juga karena tidak ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Jember untuk membenahi manajemen pementasan yang masih konservatif