Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Ngalemi - Blora, Jawa Tengah |
Deskripsi :
Upacara ngalemi dilaksanakan pada saat 36 hari setelah padi ditanam dan padi sudah dalam keadaan hamil (meteng). Pelaksanaan ngalemi dilaksanakan pada hari apapun, tidak ada hari pantangan bagi pemilik sawah. Namun pelaksanaan ngalemi, berkaitan filosofi Jawa tentang pilihan hari baik yang berhubungan empat jenis hasil akhir tanaman yang berbeda, yaitu:
1. Oyot, tanaman yang hasilnya dari akar misalnya singkong, ubi kayu, dan lain-lain.
2. Wit, tanaman yang hasilnya dari batang misalnya tebu.
3. Godhong, tanaman yang hasilnya dari daun, misalnya tembakau, sayuran, dan lain-lain.
4. Woh, tanaman yang hasilnya dari buah, misalnya papaya, waluh, dan lain-lain.
Peralatan dan ubarampe yang diperlukan adalah tumpeng nasi dan bumbu, dan tumpeng krowotan yang terdiri dari jajanan pasar, makanan dari umbi-umbian dan tebu.
Prosesi pelaksanaan upacara ini adalah:
a. Pemilik sawah menyiapkan ubarampe tersebut.
b. Setelah hari ke-36 (selapan) setelah tanam padi pemilik sawah, datang ke sawah dan mengundang orang-orang untuk mengikuti kenduri upacara ngalemi.
c. Mengambil satu sudut sawah di pinggir pematang sawah, pemilik sawah menaruh ubarampe tersebut dan diadakan kenduri (bancakan) ngalemi.
d. Setelah dibacakan doa ngalemi (biasanya dilakukan oleh sesepuh0 tumpeng dibuka dan dimakan bersama-sama.
e. Sisa makanan krowotan (kulit makanan) ditaruh di sawah yang sedang di ngalemi.
f. Tumpeng yang tersisa biasanya dibagi dan dibawa pulang peserta kenduri ngalemi tersebut.
Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah memohon kepadaYang Kuasa agar padi yang sedang hamil (meteng) dapat melahirkan bulir-bulir yang baik.