Tari Wireng - Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah

Data Teknis
KategoriWarisan Budaya
Kategori SubWarisan Budaya
No Inventaris-
NamaTari Wireng - Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Karya BudayaSeni Pertunjukan
Karya Budaya SubSeni Tari
Kondisi Saat IniSudah Berkurang
Status BudayaPencatatan
Pelaku KomunitasYoga
Pencatat Karya BudayaTheresiana Ani Larasati, S.Psi., M.Psi.
NarasumberSuyati Tarwo Sumosutargio
ProvinsiJawa Tengah
Kabupaten/KotaKOTA SURAKARTA
Penginput DataSubiyantoro, S.Sn.
Tari Wireng merupakan tari pria yang biasanya ditarikan oleh satu, dua, empat, atau lebih secara berpasang-pasangan. Tari ini bertemakan perang atau keprajuritan, tanpa atau dengan menggunakan properti (peralatan) seperti: tongkat pemukul, keris, pedang, dan tameng, serta tombak. Di Pura Mangkunagaran, Tari Wireng mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Mangkunagara IV dan Mangkunagara V. Bentuk garapan Tari Wireng digarap tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, sedangkan Tari Wireng Pethilan yang menggambarkan tokoh tertentu digarap ada yang menang dan ada yang kalah. Tokoh-tokoh yang digarap antara lain tokoh yang berkarakter gagah brangasan melawan gagah anteb, atau gagah brangasan melawan tokoh berkarakter halus, ada pula tokoh karakter halus melawan karakter halus, karakter halus melawan karakter putri, serta karakter putri melawan karakter putri. Jumlah penari pada Tari Wireng cukup bervariasi seperti telah disebutkan di atas, sedangkan pada busananya di masa Mangkunagara IV para penari berbusana kembar, sedangkan di masa Mangkunagara V diadakan pembedaan. Pembaruan dan perubahan yang dilakukan Mangkunagara V terhadap tema-tema Tari Wireng yaitu memasukkan secara tajam tema-tema Wayang Purwa, seperti: Wireng Wirapratama, Wireng Mandraasmara, Wireng Werkudara-Baladewa, Wireng Srikandhi-Larasati. Macam-macam Tari Wireng yang diciptakan oleh Mangkunagara V meliputi: Beksan Bandawala, Bandabaya, Bandawasa, Andogo Bugis, Bogis Sekawan, Wirapratama dan Mandraswara.