Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Kitab Kanjeng Kyai Suryajaya - Kraton, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta |
| Karya Budaya | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Karya Budaya Sub | Naskah Kuno |
| Kondisi Saat Ini | Sudah Berkurang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Yoga |
| Pencatat Karya Budaya | Dwi Hastuti, S.Pd. |
| Narasumber | Dra.Suyami, M.Hum |
| Provinsi | DI Yogyakarta |
| Kabupaten/Kota | KOTA YOGYAKARTA |
| Penginput Data | Subiyantoro, S.Sn. |
Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja merupakan salah satu kitab pusaka tertua di Kraton Kasultanan Yogyakarta, yang keberadaannya sangat dikeramatkan. Kitab tersebut digubah oleh Sri Sultan Hamengkubuwana III pada Tahun 1700 J (1774).
Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja berupa manuskrip Jawa, terdiri dari 2(dua) jilid dengan jumlah halaman 1419. Jilid I berjumlah 779 halaman dan jilid II berjumlah 640 halaman. Teks ditulis dalam bahasa Jawa dalam bentuk tembang macapat.
Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja berisi cerita tentang sebuah kerajaan Islam di tanah Jawa bernama Kerajaan Purwakandha dengan rajanya yang sangat sakti dan bijaksana yang bergelar Maharaja Surya Hamisesa. Sang Raja mempunyai dua putra. Putra yang pertama bernama Raden Danakusuma dan yang muda bernama Raden Jayakusuma. Dua putra tersebut mempunyai perangai yang sangat berbeda, Raden Jayakusuma mempunyai perangai yang sangat terpuji, sedangkan Raden Danakusuma mempunyai perangai yang kurang baik. Namun begitu, Maharaja Suryo Hamisesa tetap bersikap adil terhadap kedua putranya.
Pada saat sang raja akan meninggal Kerajaan Purwakandha dibagi dua. Raden Danakusuma dijadikan raja di belahan bagian timur, beribukota di Danaraja, dengan gelar Prabu Surya Hamijaya. Sedangkan Raden Jayakusuma dijadikan raja di Kerajaan Purwakandha dengan gelar Prabu Surya Hamisesa.
Prabu Surya Hamisesa (Raden Jayakusuma) tidak berumur panjang, beliau wafat ketika putra-putranya masih kecil-kecil. Sepeninggal Raden Jayakusumo, Kerajaan Purwokandha dirampas oleh Raden Danakusuma dan lima orang anaknya ditelantarkan. Bahkan akhirnya si Sulung Raden Jayakusuma yang bernama Pangeran Pujakusuma di bunuh di alun-alun, di bawah pohon beringin kurung. Ketika jasad Pangeran Pujokusumo akan diambil oleh utusan Prabu Suryo Hamijaya tiba-tiba lenyap dihempas angin dan jatuh di Kali Wedi. Akhirnya jasad Pangeran Pujokusuma ditemukan oleh kakeknya yang bernama Panembahan Danasukma, kemudian dihidupkan kembali. Setelah melalui perjuangan Pangeran Pujokusumo berhasil merebut kembali Kerajaan Purwakandha dari tangan uwaknya, bahkan berhasil menguasai seluruh tanah Jawa secara turun temurun sampai dengan keturunan yang ke tujuh.
Dalam Kitab Kanjeng Suryaraja tercermin dunia istana, termasuk tentang tatacara berpakaian, tatacara kehidupan tentang struktur kepangkatan dan tatacara menghadap raja, tentang nama-nama tempat tinggalnya. Selain itu dalam Kitab tersebut juga digambarkan bahwa Kerajaan Purwakandha mempunyai makam keramat, yaitu makam leluhurnya yang terdapat di bukit Pajimatan.
Secara ringkas, silsilah urutan penguasa-penguasa di Kerajaan Purwkanda adalah sebagai berikut : Maharaja Surya hamisesa, 2. Prabu Suryo Hamisesa (Raden Jayakusuma), 3. Pangeran Pujakusuma/Senakusuma, 4. Raden Tejakusum, 5. Raden Kusuma Wijaya, 6. Raden Jaya Misani, 7. Raden Jaya Sumadi, 8. Raden Jaya Asmara, 9. Raden Danur Samaraya.
Berdasarkan data yang terdapat dalam teks Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja dan fakta yang terdapat dalam kehidupan nyata di lingkungan dunia istana Kraton kasultanan Yogyakarta. Sehingga Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja dapat dikatakan sebagai sumber data yang menggambarkan fakta dunia, khususnya dunia kehidupan Istana di Kraton Kasultanan Yogyakarta pada abad 18.
Kitab Kanjeng Kyai Suryaraja mempunyai teks yang dianggap rahasia. Di samping teks yang dilarang dibaca bersama banyak orang, namun demikian di dalam naskah tersebut juga ada teks yang harus dibaca bersama orang banyak. Karena kerahasiaan itu maka Sri Sultan Hamengku Buwanan VIII menghendaki kitab tersebut disimpan di Dalem Prabayeksa, gedung tempat penyimpanan pusaka Kraton Kasultanan Yogyakarta.
Wawancara dengan Ibu Dra.Suyami, M.Hum