Data Teknis
| Kategori | Warisan Budaya |
| Kategori Sub | Warisan Budaya |
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Gambyong Pangkur - Kab. Wonogiri, Jawa Tengah |
| Karya Budaya | Seni Pertunjukan |
| Karya Budaya Sub | Seni Tari |
| Kondisi Saat Ini | Sedang Berkembang |
| Status Budaya | Pencatatan |
| Pelaku Komunitas | Yoga |
| Pencatat Karya Budaya | Theresiana Ani Larasati, S.Psi., M.Psi. |
| Narasumber | Suwarti |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Kabupaten/Kota | KAB. WONOGIRI |
| Penginput Data | Subiyantoro, S.Sn. |
Tari Gambyong Pangkur dipercaya masyarakat setempat merupakan klangenan Eyang Kertodiwiryo, dhanyang dusun Kaloran Lor. Pertunjukan Tari Gambyong Pangkur menyertai upacara bersih dusun di Kaloran Lor, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Tari Gambyong Pangkur disajikan di salah satu rumah warga masyarakat yang telah ditentukan sebelumnya dan mempunyai halaman yang luas. Halaman atau tempat yang luas sangat berpengaruh pada keleluasaan gerak penari sehingga dapat mengembangkan pola lantai secara lebih variatif. Tempat yang luas bermanfaat pula bagi penonton yang menyaksikan. Para penonton duduk di sekitar arena pertunjukan sehingga dapat menyaksikan tarian dengan nyaman dan tidak terlalu jauh jaraknya dari para penari.
Gerakan dalam Tari Gambyong Pangkur meliputi: srisik, enjer pecak miring, ulap-ulap-tawing, entragan, penthangan tangan kanan (mondro), tangan kiri miwir sampur, entragan, ngilo asta, gajah-gajahan, panggel, sindhet, seblak menthogan trap jamang, ngolong sampur, ulap-ulap glebagan menthog kanan geser kiri, ngilo sampur, embat-embat penthangan kiri, srigig kanan.Pola lantai yang digunakan dalam menarikan Tari Gambyong Pangkur pada umumnya adalah lingkaran, lengkung, dan garis lurus. Pola lantai lingkaran biasanya digunakan untuk gerakan srisig, pola lantai garis lurus antara lain untuk gerak enjer, batangan, tumpang, dan laku telu, sedangkan pola lantai lengkung antara lain untuk gerakan ngrimong sampur, srisig, dan ngilo sampur. Namun demikian, pengembangan pola lantai sangat tergantung pada kemampuan penari yang membawakan tarian tersebut.
Rias dan busana yang digunakan penari adalah rias cantik, yaitu dengan bantuan alat-alat rias atau kosmetik seperti bedak, pemulas mata, pensil alis, dan lipstick. Rambut para penari dikonde menggunakan konde model Jawa yang dihiasi tusuk konde, cunduk mentul, dan cunduk jungkat. Busana yang dikenakan penari adalah kain batik yang diwiru. Motif kain batik yang dikenakan tidak ada ketentuannya. Kemben atau angkin penutup dada menggunakan motif jumputan atau pelangi, sedangkan sampur atau selendang diletakkan di bahu kanan atau kedua bahu penari. Busana penari dilengkapi bros, kalung, giwang, dan gelang, serta untaian melati.
Pertunjukan Tari Gambyong Pangkur dalam rangkaian upacara bersih dusun merupakan satu kesatuan yang utuh. Keduanya saling terkait dan terintegrasi, karena Tari Gambyong Pangkur merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan upacara bersih dusun di Kaloran Lor. Masyarakat mempercayai akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan apabila upacara bersih dusun di Kaloran Lor tidak disertai dengan pertunjukan Tari Gambyong Pangkur.